IMF Abaikan Ancaman Resesi dari Kebijakan Tarif Trump
JAKARTA – Kebijakan tarif yang dimaksud dijalankan Presiden Negeri Paman Sam Donald Trump memicu ketidakpastian yang digunakan signifikan kemudian merusak kepercayaan terhadap ekonomi global. Kendati demikian, Dana Moneter Internasional ( IMF ) menilai hal itu tiada mungkin saja menyebabkan resesi di waktu dekat.
Trump diperkirakan akan segera mengumumkan tarif timbal balik atau resiprokal yang tersebut memiliki target negara-negara yang tersebut mengenakan tarif pada produk-produk Amerika atau menerapkan praktik-praktik perdagangan yang dianggap tiada adil oleh Gedung Putih. Serangkaian tarif khusus negara akan memiliki target semua mitra dagang AS, termasuk Uni Eropa (UE), China, juga Kanada. Trump menyampaikan hari dalam mana ia akan meluncurkan kebijakan tarif resiprokal yang dimaksud sebagai “Hari Pembebasan”.
Trump memberlakukan berbagai tarif sejak kembali ke Gedung Putih pada bulan Januari, termasuk pungutan luas terhadap China, sanksi menghadapi barang-barang Kanada lalu Meksiko, baja juga aluminium, dan juga yang dimaksud terbaru, mobil-mobil asing serta suku cadang utama.
Dalam wawancara dengan Media Reuters pada hari Senin, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengungkapkan bahwa IMF diperkirakan akan sedikit menurunkan perkiraan perekonomian globalnya di pembaruan Prospek Kondisi Keuangan Global mendatang. Akan tetapi, lembaga itu tidak ada meninjau akan terjadinya resesi.
“Apa yang dimaksud kita lihat di indikator jumlah kali tinggi memang sebenarnya menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen, kepercayaan pemodal agak melemah, dan juga kita tahu bahwa itu kemudian berdampak pada prospek pertumbuhan,” kata Georgieva seperti dilansir Russia Today.
Komentarnya menyusul peringatan serius dari Goldman Sachs pada hari Akhir Pekan bahwa dunia usaha Negeri Paman Sam menghadapi risiko resesi yang dimaksud semakin meningkat akibat tarif yang mana meningkat mengancam untuk meredam pertumbuhan, mengupayakan inflasi, dan juga meningkatkan pengangguran. Goldman Sachs yang dimaksud meninggal probabilitas resesi 12 bulannya menjadi 35%, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 20%.
Keyakinan penanam modal sudah pernah terguncang oleh penerapan tarif baru yang mana tiada dapat diprediksi, yang dimaksud menyebabkan penurunan hampir 10% pada indeks saham utama Negeri Paman Sam sejak pertengahan Februari, oleh sebab itu kegelisahan meningkat bahwa pungutan yang dimaksud dapat menghambat peningkatan ekonomi atau menyokong ekonomi ke di resesi.
Namun, Georgieva mencatatkan data bahwa IMF belum mengamati “dampak dramatis” dari tarif yang tersebut diberlakukan atau diancam oleh Trump sejak ia kembali ke Gedung Putih, kemudian lebih banyak mengharapkan “koreksi” ke bawah yang mana kecil.
“Semakin cepat ada kejelasan, semakin baik, oleh sebab itu ketidakpastian, penelitian kami menunjukkan, semakin lama berlangsung, semakin besar dampak negatifnya terhadap pertumbuhan,” katanya.
Pada bulan Januari, IMF sedikit meninggikan perkiraan pertumbuhan globalnya untuk tahun 2025 menjadi 3,3%, naik dari 3,2% pada proyeksi Oktober, dengan peningkatan setengah poin yang mana substansial pada prospek Negeri Paman Sam – sekarang di dalam 2,7% – yang mengupayakan sebagian besar peningkatan.
Georgieva mencatat bahwa perdagangan global terus mengalami perkembangan meskipun ada peningkatan tindakan proteksionis di dalam seluruh dunia, yang tersebut telah lama membentuk kembali pola perdagangan kemudian memunculkan tantangan bagi globalisasi.

