Dubes Prancis: Prabowo, Macron memutuskan perkuat kemitraan di sains
Ibukota Indonesia – Presiden RI Prabowo Subianto serta Presiden Prancis Emmanuel Macron telah terjadi memutuskan untuk menguatkan kemitraan kedua negara, khususnya pada bidang sains, kata Duta Besar Prancis untuk Indonesia Fabien Penone.
Dalam wawancara singkat di dalam Jakarta, Rabu, Penone menyatakan bahwa kerja sebanding ilmiah di bidang maritim kedua negara merupakan contoh nyata penguatan kerja sejenis di bidang sains.
Penone menilai bahwa kerja mirip ilmiah di bidang maritim merupakan hal yang digunakan dapat saling menguntungkan kedua negara.
“Kami juga bisa saja belajar berbagai dari Indonesia. Pengalaman ilmiah, keahlian ilmiah tentang sumber daya laut, tentang pengelolaan laut,” tambah Penone.
Dubes Prancis itu juga menyatakan Indonesia lalu Prancis dapat bekerja serupa di lebih besar banyak bidang selain bidang ilmiah, seperti kerja serupa budaya, investasi, perdagangan.
Badan Pembangunan Prancis (AFD) juga Uni Eropa (EU) melakukan penandatanganan Perjanjian Kontribusi yang mana mendelegasikan pengelolaan hibah EU terhadap AFD serta eksekutif Indonesia pada Rabu dalam Jakarta.
AFD melakukan penandatanganan dua perjanjian hibah dengan total nilai 7 jt euro (Rp121,5 miliar), yang dimaksud didanai oleh EU, untuk mengupayakan inisiatif kerja identik “Untuk Pengelolaan Laut yang dimaksud Berbasis Bukti dan juga Berkelanjutan”.
Hibah EU yang digunakan dikelola oleh AFD itu merupakan bagian dari upaya yang lebih lanjut luas oleh Tim Eropa dalam bawah inisiatif Global Gateway untuk memajukan pengelolaan laut yang berkelanjutan.
Dari total hibah tersebut, 3,55 jt euro (Rp61,6 miliar) akan mendanai kegiatan yang tersebut dipimpin oleh Kementerian Kelautan serta Perikanan (KKP) RI, sedangkan 3,45 jt euro (Rp59,8 miliar) akan membiayai inisiatif oleh Badan Studi kemudian Inovasi Nasional (BRIN).
Pendanaan EU yang dimaksud melengkapi dua pinjaman AFD sebesar 187,6 jt euro (Rp3,25 triliun) sebelumnya, yaitu 98,6 jt euro (Rp1,7 triliun) untuk proyek pelabuhan perikanan ramah lingkungan guna memodernisasi empat pelabuhan perikanan di area Indonesia.
Sedangkan 89 jt euro (Rp1,5 triliun) untuk KrisNa Project oleh BRIN untuk memperoleh dua kapal penelitian multidisiplin yang canggih.
Hibah yang disebutkan akan mengupayakan pelatihan lanjutan, pengumpulan data keanekaragaman hayati lalu iklim laut, pemulihan sistem ekologi pesisir, serta langkah-langkah untuk menghurangi jejak lingkungan dari aktivitas pelabuhan serta akan dilaksanakan selama lima tahun.

