Dugaan Korupsi Impor Minyak Bisa Mengalami Kerugian Reputasi Pertamina, Ini adalah Efeknya
JAKARTA – Penahanan sebagian petinggi subholding Pertamina beserta rekanan berhadapan dengan dugaan korupsi impor minyak dinilai bukan belaka merusak reputasi perusahaan, namun juga berdampak luas bagi BUMN energi nasional tersebut. Skandal yang mana disebut-sebut merugikan negara hingga Rp193,7 triliun itu berpotensi mempengaruhi arus kas, investasi, juga peningkatan Pertamina ke depan.
Ekonom lalu pakar kebijakan masyarakat UPNVJ Achmad Nur Hidayat mengatakan, persoalan hukum ini dapat mengguncang kepercayaan mitra global lalu penanam modal asing terhadap Pertamina. “Mitra internasional, seperti perusahaan energi asing yang dimaksud bermitra pada proyek kilang atau eksplorasi, mungkin saja mengevaluasi ulang risiko bekerja sejenis dengan Pertamina pasca-skandal ini,” kata Achmad di keterangan tertulisnya, Hari Sabtu (1/3/2025).
Reputasi tata kelola yang dimaksud tercoreng menurutnya akan menimbulkan pemodal lebih banyak berhati-hati, khawatir akan kemungkinan kerugian finansial akibat praktik curang. Indikasi itu, kata dia, tampak dari besarnya perhatian media internasional yang mana menyoroti skandal ini. “Peliputan penting media asing menunjukkan perhatian global terhadap isu governance Pertamina,” tandasnya.
Menurut dia, tekanan rakyat serta pemodal dapat menimbulkan Pertamina tambahan sulit menggaet penanaman modal baru atau pinjaman luar negeri dengan bunga rendah hingga perusahaan membuktikan pembenahan tata kelola. Mitra strategis mungkin saja menuntut penerapan compliance serta transparansi lebih lanjut ketat sebagai ketentuan kelanjutan investasi.
Reputasi yang digunakan tercoreng ini juga menghurangi sikap tawar Pertamina di negosiasi internasional, misalnya ketika hendak menjalin aliansi strategis atau membeli aset pada luar negeri.
Skandal ini, lanjut Achmad, juga memukul kepercayaan umum terhadap Pertamina. Dugaan pengoplosan di skandal ini menyebabkan jutaan konsumen BBM Pertamina mempertanyakan apakah item yang mana dia beli benar-benar sesuai spesifikasi. “Efeknya, citra Pertamina di dalam mata konsumen mengecil drastis. Pertamina sebelumnya dipandang sebagai penyedia BBM andal, tapi perkara ini menodai reputasi tersebut,” tegasnya.
Terganggunya kepercayaan ini, lanjut Achmad, bisa saja berdampak pada perilaku konsumen – misalnya, konsumen kelas menengah yang kemungkinan besar beralih ke SPBU swasta (Shell, BP, Vivo) yang mana dianggap lebih banyak terjamin kualitasnya, meskipun pilihan itu terbatas jumlahnya.
“Pertamina perlu segera melakukan langkah pemulihan kepercayaan seperti uji kualitas BBM secara terbuka, kampanye jaminan mutu, serta komunikasi intensif bahwa praktik curang telah dilakukan dihentikan,” tandasnya.
Achmad menambahkan, skandal ini bahkan berpotensi menghambat prospek peningkatan Pertamina pada jangka pendek. Alasannya, fokus manajemen lalu pemerintah mungkin saja teralihkan untuk menyelesaikan kesulitan hukum lalu melakukan reformasi internal, sehingga proyek ekspansi bisa jadi tertunda.

