Kementerian PU Dorong Pengelolaan Stadion Berstandar Tinggi
JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menggerakkan pengelolaan stadion berstandar tinggi. Hal ini penting agar stadion dapat dimanfaatkan secara optimal di jangka panjang.
Hal ini disampaikan Direktur Prasarana Penting Ditjen Cipta Karya Kementerian PU Essy Asiah pada Rapat Sinkronisasi (Rakor) Rehabilitasi kemudian Renovasi Stadion dan juga Workshop Pengelolaan Stadion di tempat Alana Hotel, Bogor, pada Selasa (17/12/2024).
Rapat dihadiri beberapa orang pemangku kepentingan, seperti Kepala Bagian Keuangan juga Pengelolaan Barang Milik Negara Mita Dwi Aprini, Kepala Satuan Kerja (Kasatker), Pejabat Pencipta Keseriusan (PPK), perwakilan PSSI, PT Turnamen Indonesia Baru, PT Bali Bintang Sejahtera (Bali United), dan juga pengelola stadion yang tersebut berada pada bawah naungan Kementerian PU.
Essy Asiah menjelaskan, Kementerian PU telah terjadi mendapat penugasan dari presiden untuk mendirikan juga merenovasi stadion di area Indonesia. Hal ini didasarkan pada Risalah Rapat Internal Sekretariat Kabinet pada 22 Juni 2023 dan juga Keputusan Menpora Nomor 71 Tahun 2020.
“Sejak penugasan itu diberikan, Kementerian PU sudah menyelesaikan renovasi lima stadion di dalam lima provinsi untuk membantu keperluan Piala Bumi U-17 serta U-20 pada 2023. Saat ini, renovasi sedang berlangsung di tempat 21 stadion di area 11 provinsi yang direncanakan selesai pada tahun anggaran 2024,” ujar Essy di keterangannya, Kamis (19/12/2024).
Ia juga mengungkapkan, tiga stadion di dalam Aceh kemudian Sumatera Utara telah lama rampung dibangun untuk menyokong pelaksanaan PON XXI 2024. Stadion-stadion yang dimaksud diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Oktober 2024.
Menurut Essy, perkembangan dan juga renovasi stadion merupakan langkah strategis untuk memajukan sepak bola Indonesia. Selain membutuhkan sumber daya manusia yang mana berkualitas, infrastruktur berstandar tinggi menjadi kunci untuk mencapai kemajuan tersebut. Namun, Essy menekankan pentingnya edukasi pengelolaan stadion agar stadion dapat dimanfaatkan secara optimal di jangka panjang.
“Euforia kita tidak ada hanya sekali sebatas pada penyelenggaraan stadion, namun juga perlu diperhatikan pengoperasian lalu perawatannya, sehingga stadion dapat terawat, memunculkan pendapatan bagi pemilik aset lalu klub, juga bermanfaat bagi masyarakat,” jelas Essy.
Perwakilan PSSI, Adi Nugroho, menambahkan bahwa pengelolaan stadion yang sesuai standar sangat penting, khususnya dikarenakan sejumlah stadion di dalam Indonesia digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk acara komersial. Ia menyadari bahwa permintaan pemasukan tambahan kerap kali menjadi alasan pengelola menyewakan stadion untuk kegiatan pada luar pertandingan sepak bola.
“Namun, panitia juga harus memiliki standar penyelenggaraan event dalam stadion agar prasarana masih terjaga kualitasnya,” ujar Adi. Ia juga menyarankan agar diadakan general cleaning pada proses Provisional Hand Over (PHO) sebagai tanda bahwa stadion siap digunakan dengan aman.
Melalui rakor kemudian workshop ini, Kementerian PU berharap pengelolaan stadion di dalam Indonesia dapat ditingkatkan, baik dari segi operasional maupun infrastruktur, untuk membantu perkembangan sepak bola nasional sekaligus memberikan faedah yang mana tambahan luas bagi masyarakat.

