Menteri P2MI Buka Prospek Cabut Moratorium Pengiriman Pekerja Indonesia ke Arab Saudi
JAKARTA – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding membuka prospek mengakhiri moratorium pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Arab Saudi. Pelindungan pekerja migran akan dikaji terkait kemungkinan dicabutnya moratorium ini.
Hal itu disampaikan Menteri Karding usai bertemu delegasi HRSD Arab Saudi untuk Courtesy Meeting TIM HRSD (The Ministry of Human Resources and Social Development Saudi Arabia) di tempat kantor KemenP2MI, Pancoran, Ibukota Indonesia Selatan, Awal Minggu (17/2/2025).
“Pada kesempatan tersebut, kami sedang menjajaki untuk memulai pembangunan kerja sejenis kembali teristimewa terkait dengan penempatan pekerja migran kita ke Arab Saudi,” katanya.
Pemerintah Indonesia diketahui menerbitkan moratorium atau penghentian pengiriman pekerja migran ke Arab Saudi sejak 2012.
Menurut Karding, kebijakan moratorium itu justru mengakibatkan masifnya pemberangkatan pekerja migran Indonesia secara unprosedural atau ilegal ke Arab Saudi. Jika wacana dicabutnya moratorium terealisasi, Karding menegaskan akan memperketat jalur pemberangkatan sehingga penyelundupan Pekerja Migran Indonesia ke Arab Saudi bukan terjadi.
“Yang masyarakat harus tahu bahwa selama ini kita tutup, setiap tahun minimal 25.000 Pekerja Migran Indonesia ilegal. Selama ditutup sampai sekarang ada 183.000 Pekerja Migran Indonesia ilegal. Itu menurut kita unprosedural. Nah, oleh sebab itu Kalau ini dibuka unprosedural harus berkurang, bahkan tidak ada ada lagi,” ungkapnya.
Baca Juga: Gaji TKI belum disepakati, Indonesia tunda tarik moratorium
Karding mengungkapkan ada sebagian persyaratan yang tersebut wajib dipenuhi Arab Saudi jikalau penghentian pengiriman Pekerja Migran Indonesia ke negaranya diakhiri. Dia menegaskan, pemerintahan Arab Saudi harus memperhatikan keselamatan Pekerja Migran Indonesia dalam negaranya dengan adanya jaminan asuransi kerja serta upah minimum sebesar 1.500 Riyal.
“Yang pertama kita ingin menjamin bahwa ada pengamanan di bentuk asuransi bahkan asuransi yang dimaksud tanggung risikonya mencakup lah. Lalu yang kedua, khususnya pekerja domestik di tempat nomor 1.500 Riyal,” ujarnya.
Selain itu, Karding juga meminta-minta terhadap eksekutif Arab Saudi agar melakukan integrasi data lalu tak lagi memakai sistem lama, yakni mempekerjakan Pekerja Migran Indonesia dengan segera ke majikan.
“Kita mengajukan permohonan ada integrasi data antara merekan dengan kita, sehingga PMI kita terdata, terkontrol lalu terawasi kemudian bisa jadi kita bina. Kita berharap supaya mereka yang dimaksud mengatur tidak ada lagi pakai sistem lama, sistem langsung-langsung (ke majikan) itu ndak boleh,” ucapnya.

