Metformin berisiko jangka panjang bagi perkembangan janin
Ibukota – Metformin, obat penyakit gula yang banyak digunakan kemudian banyak diresepkan untuk wanita hamil guna mengatur kadar gula darah lalu menjaga dari komplikasi, kemungkinan besar memiliki risiko jangka panjang bagi janin, menurut studi terbaru.
Dikutip dari Medical Daily, Kamis, peneliti menemukan bahwa obat ini dapat menembus plasenta, yang mana berpotensi menyebabkan pembatasan pertumbuhan janin dan juga meningkatkan risiko obesitas dan juga kekebalan insulin pada masa kanak-kanak.
"Kami tahu bahwa ketika pribadi wanita hamil mengalami obesitas serta memiliki kondisi seperti diabetes, anaknya tambahan kemungkinan besar mengembangkan obesitas dan juga diabetes. Karena penyelenggaraan metformin yang mana luas pada ibu hamil, penting bagi kami untuk memahami apakah obat ini bermanfaat bagi bayi di jangka panjang, atau apakah ada konsekuensi yang tidak ada diinginkan," kata salah satu penulis studi, Jed Friedman, pada siaran pers.
Hasil studi yang tersebut dipublikasikan di area American Journal of Obstetrics and Gynecology menunjukkan bahwa metformin dapat menembus plasenta dengan bebas dan juga terakumulasi di tempat ginjal, hati, usus, plasenta, cairan amnion, serta urine janin.
Peneliti menemukan bahwa kadar obat ini pada urine janin hampir setara dengan kadar yang ada pada ibu.
"Akumulasi ini selama kehamilan dikaitkan dengan pembatasan pertumbuhan pada ginjal, hati, otot rangka, jantung, kemudian simpanan lemak yang mana mengupayakan organ-organ perut, yang dimaksud semuanya berkontribusi pada penurunan berat badan janin," kata siaran pers tersebut.
Temuan mencolok lainnya adalah bahwa kadar metformin di sistem anak tidak ada berbeda menurut diet ibu.
"Banyak obat mengalami metabolisme 'first-pass' dengan cara diserap pertama kali di dalam hati, yang mana menghurangi konsentrasi obat sebelum terus disebarkan ke tubuh. Namun, metformin tak mengalami efek first-pass, melainkan dipindahkan melintasi plasenta, yang digunakan mengekspos janin pada dosis obat yang mana setara dengan dosis orang dewasa," jelas Friedman.
Meskipun metformin diresepkan selama kehamilan untuk menurunkan risiko komplikasi terkait diabetes, seperti obesitas serta diabetes mellitus pada anak, studi ini menunjukkan bahwa obat itu sendiri kemungkinan besar berkontribusi pada risiko yang digunakan sama.
"Mengingat hasil-hasil ini juga prevalensi pemanfaatan metformin selama kehamilan, penyelidikan lebih tinggi lanjut mengenai prospek efek segera dan juga jangka panjang dari penyelenggaraan metformin prenatal sangat diperlukan," tulis para peneliti.
Penelitian sebelumnya tentang obat-obatan yang digunakan digunakan selama kehamilan umumnya berfokus pada apakah obat-obatan yang dimaksud dapat menyebabkan bahaya bagi bayi.
Meskipun metformin dianggap aman lantaran tiada terkait dengan cacat lahir, para peneliti mencatatkan data bahwa janin tidak ada memiliki cara untuk membersihkan obat ini sepenuhnya dari sistem tubuhnya.

