Setelah Menyerang gerakan Hamas kemudian Hizbullah, negara Israel Menghadapi Lawan Terberat: Kemerosotan Kondisi Keuangan
Jakarta – Ketegangan terus meningkat dalam Timur Tengah menyusul serangan Israel ke Lebanon menyulut keterlibatan Iran. Namun konflik tambahan berat dihadapi negara Zionis itu, yakni kemerosotan ekonomi.
Penurunan peringkat kredit negeri Israel oleh Moody’s berjumlah dua tingkat mungkin saja pada pekan berikutnya bukanlah yang digunakan terakhir, kata para analis, oleh sebab itu pertempuran dalam dua front memacu pengeluaran negara kemudian mengakibatkan perasaan khawatir bahwa kegiatan ekonomi mungkin saja tiada pulih secepat seperti pada konflik-konflik sebelumnya.
Langkah mengejutkan Moody’s pada hari Jumat, 27 September 2024, untuk menurunkan peringkat kredit negara Israel bermetamorfosis menjadi “Baa1” dari “A2” dikritik oleh pejabat pemerintah negeri Israel tetapi mencerminkan ketidakpastian berhadapan dengan prospek ekonomi negeri itu ketika konflik berkecamuk serta meluas.
“Peringkat yang dimaksud kemungkinan akan diturunkan lebih lanjut lanjut, mungkin saja beberapa tingkat, apabila ketegangan yang tersebut meningkat ketika ini dengan Hizbullah berubah menjadi konflik skala penuh,” kata Moody’s seperti disitir Reuters.
Ekonom Bank Hapoalim Victor Bahar mencatatkan bahwa “peringkat utang Baa1 biasanya mencirikan negara-negara yang digunakan terpencil kurang kaya kemudian mengalami perkembangan daripada Israel”.
Penurunan peringkat yang disebutkan memproduksi peringkat negeri Israel turun tiga tingkat dari peringkat keenam awal tahun ini.
“Ada banyak kesulitan yang mana harus kami lakukan untuk mempertahankan peringkat pada waktu ini,” kata Yair Avidan, mantan regulator perbankan Israel.
Perang tanah Israel yang mana sudah pernah berlangsung selama per tahun berhadapan dengan kelompok kelompok Hamas Palestina pada Daerah Gaza diperkirakan menelan biaya 250 miliar shekel (Rp1.000 triliun lebih). Sekarang negara Israel menambah musuh dengan menyerang Hizbullah dalam Lebanon, yang dimaksud menyebabkan Iran terlibat.
Politisi Israel, satu di antaranya Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, menyatakan penurunan peringkat Moody’s, yang tersebut disertai oleh pemotongan oleh Fitch dan juga S&P Global, meremehkan kekuatan ekonomi Israel.
Fitch memperkirakan negeri Israel akan meningkatkan belanja pertahanan jangka panjang dari tingkat sebelum konflik hingga mendekati 1,5% dari PDB, lalu S&P Global juga menyoroti risiko geopolitik yang digunakan terus meningkat dan juga defisit anggaran yang digunakan semakin melebar.
Akuntan umum negara Israel Yali Rothenberg memaparkan sudah ada jelas bahwa pertempuran ke beberapa bidang akan memunculkan kerugian ekonomi, tetapi menyatakan “tidak ada pembenaran” untuk penurunan peringkat Moody’s terbaru.
Namun perkembangan telah dilakukan mengalami pukulan yang digunakan jelas selama dalam setahun terakhir, melambat berubah jadi 0,7% per tahun pada kuartal kedua – atau kontraksi 0,9% per kapita seiring dengan bertambahnya populasi negara Israel – yang mana meningkatkan tekanan pada keuangan pemerintah.
Perang dengan Hizbullah Sebabkan Kontraksi 3 Persen
Menurut Aharon Institute for Economic Policy ke Reichman University, peperangan habis-habisan dengan Hizbullah di antaranya operasi darat akan menyebabkan kontraksi ekonomi sebesar 3,1% tahun ini dan juga defisit anggaran sebesar 9,2% dari PDB.
Anggaran pertahanan terus membengkak lalu mitra koalisi Utama Menteri Benjamin Netanyahu bersikeras mempertahankan kegiatan pengeluaran.
Menteri Keuangan Bezalel Smotrich memiliki target defisit sebesar 4% dari Ekonomi Nasional dan juga pemotongan pengeluaran sebesar 35 miliar shekel (Rp142,4 triliun).
Seorang pejabat senior pemerintah mengungkapkan Moody’s seharusnya mengawaitu hingga anggaran 2025 disetujui, tetapi rute yang disebutkan sudah tertunda selama dua bulan ke berada dalam pertikaian koalisi.
“Yang jelas adalah bahwa merekan bukan mempunyai kepercayaan pada pemerintah terkait prospek fiskal,” kata Flug dari negara Israel Democracy Institute.
Bagi banyak penduduk pada sektor kegiatan bisnis Israel, kekuatan mendasar kegiatan ekonomi serta sektor teknologi tinggi yang tersebut dinamis lebih banyak penting daripada pertanyaan tentang target belanja pemerintah.
Yossi Abu, kepala eksekutif di NewMed Energy, mengatakan langkah Moody’s sebagai “kesalahan besar” yang mana “mencerminkan kurangnya pemahaman tentang ketahanan lalu semangat Israel”.
Sementara itu, Bank negara Israel sudah pernah mendesak pemotongan belanja juga kenaikan pajak untuk mengendalikan defisit yang tersebut diproyeksikan pemerintah sebesar 6,6% dari produk-produk domestik bruto untuk tahun 2024 tetapi pada waktu ini berjalan pada nomor 8,3%. Moody’s memperkirakan defisit sebesar 7,5% tahun ini.
Laman The Jerusalem Post, 1 Oktober 2024, menulis ke antara berubah-ubah front yang mana telah terjadi dihadapi negeri Israel sejak 7 Oktober 2023, ada satu peperangan yang mana jelas-jelas tanah Israel telah lama kalah yaitu ekonomi.
Ini adalah front yang mana bukan kalah mengancamnya jika dibandingkan pertempuran mana pun yang dimaksud dihadapi tanah Israel secara militer. Tidak ada negara yang digunakan dapat berfungsi tanpa kegiatan ekonomi yang digunakan cukup kuat untuk mendukungnya, tanpa sistem medis, sistem kesejahteraan, sistem pendidikan, dan juga fungsi penting lainnya yang tersebut harus disediakan negara bagi warganya.
Meskipun ini tidak hal baru – para ekonom sudah pernah mengeluarkan peringatan keras selama bertahun-tahun sementara para politisi sudah pernah menunda inovasi yang dimaksud diperlukan – peperangan sudah pernah memperparah ancaman kegiatan ekonomi eksistensial yang mana dihadapi Israel. Hal ini mengancam akan mempercepat pengurasan sumber daya manusia, mengacaukan kepercayaan penanam modal terhadap negara tanpa dapat diperbaiki, lalu meledakkan defisit negara.
Pilihan Editor Menkominfo Titipkan Target Kecepatan Dunia Maya 100 Mbps ke Pemerintahan Prabowo
Artikel ini disadur dari Setelah Menyerang Hamas dan Hizbullah, Israel Menghadapi Lawan Terberat: Kemerosotan Ekonomi

