Surat Ali Imran Full: Arab, Latin lalu Terjemahannya
Jakarta – Surat Ali Imran merupakan surat ketiga di Al-Qur’an. Surat ini diturunkan pasca Surat Al-Anfal.
Surat Ali Imran diwahyukan pada tahun 9 Hijriyah di Pusat Kota Madinah, sehingga diantaranya pada golongan Surat Madaniyyah. Nama “Ali Imran” berarti “Keluarga Imran,” serta surat ini dinamakan demikian lantaran memuat kisah tentang Keluarga Imran, yaitu ayah dari Maryam.
Surat Ali Imran terdiri dari 200 ayat kemudian dikenal dengan sebutan Az-Zahraawani (dua yang mana cemerlang) bersatu dengan Surat Al-Baqarah. Keduanya disebut demikian sebab mengungkap hal-hal yang tersebut disembunyikan oleh ahli kitab, seperti kelahiran Nabi Isa Amerika Serikat dan juga kedatangan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah, juga lainnya.
Mengutip dari quran.nu.or.id, berikut Surat Ali ‘Imran full latin, arti juga terjemahannya
الۤمّۤ ١
alif lâm mîm
Alif Lām Mīm.
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُۗ ٢
allâhu lâ ilâha illâ huwal-ḫayyul-qayyûm
Allah, tidaklah ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus (makhluk-Nya) secara terus-menerus.
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَاَنْزَلَ التَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۙ ٣
nazzala ‘alaikal-kitâba bil-ḫaqqi mushaddiqal limâ baina yadaihi wa anzalat-taurâta wal-injîl
Dia menurunkan kepadamu (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) dengan hak, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan juga telah dilakukan menurunkan Taurat kemudian Injil
مِنْ قَبْلُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَاَنْزَلَ الْفُرْقَانَ ەۗ اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍۗ ٤
ming qablu hudal lin-nâsi wa anzalal-furqân, innalladzîna kafarû bi’âyâtillâhi lahum ‘adzâbun syadîd, wallâhu ‘azîzun dzuntiqâm
Sebelum (turunnya Al-Qur’an) sebagai petunjuk bagi manusia, serta menurunkan Al-Furqān (pembeda yang hak lalu yang dimaksud batil). Sesungguhnya orang-orang yang dimaksud kufur terhadap ayat-ayat Allah, bagi dia azab yang mana sangat keras. Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa).
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ ٥
innallâha lâ yakhfâ ‘alaihi syai’un fil-ardli wa lâ fis-samâ’
Sesungguhnya bagi Allah tidak ada ada sesuatu pun yang tersebut tersembunyi dalam bumi kemudian tak pula di dalam langit.
هُوَ الَّذِيْ يُصَوِّرُكُمْ فِى الْاَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاۤءُۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ٦
huwalladzî yushawwirukum fil-ar-ḫâmi kaifa yasyâ’, lâ ilâha illâ huwal-‘azîzul-ḫakîm
Dialah (Allah) yang tersebut membentuk kamu di rahim sebagaimana yang tersebut Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُۘ وَالرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَاۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ ٧
huwalladzî anzala ‘alaikal-kitâba min-hu âyâtum muḫkamâtun hunna ummul-kitâbi wa ukharu mutasyâbihât, fa ammalladzîna fî qulûbihim zaighun fayattabi’ûna mâ tasyâbaha min-hubtighâ’al-fitnati wabtighâ’a ta’wîlih, wa mâ ya’lamu ta’wîlahû illallâh, war-râsikhûna fil-‘ilmi yaqûlûna âmannâ bihî kullum min ‘indi rabbinâ, wa mâ yadzdzakkaru illâ ulul-albâb
Dialah (Allah) yang mana menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang dimaksud muhkamat, itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an) juga yang digunakan lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang mana pada hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mana mutasyabihat untuk mengakibatkan fitnah (kekacauan lalu keraguan) dan juga untuk mencari-cari takwilnya. Padahal, tidak ada ada yang dimaksud mengetahui takwilnya, kecuali Allah. Orang-orang yang tersebut ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali ululalbab.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةًۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ ٨
rabbanâ lâ tuzigh qulûbanâ ba’da idz hadaitanâ wa hab lanâ mil ladungka raḫmah, innaka antal-wahhâb(Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelahnya Engkau berikan petunjuk untuk kami kemudian anugerahkanlah terhadap kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.
رَبَّنَآ اِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيْهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيْعَادَࣖ ٩
rabbanâ innaka jâmi’un-nâsi liyaumil lâ raiba fîh, innallâha lâ yukhliful-mî’âdWahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah yang mengakumulasi manusia pada hari yang bukan ada keraguan padanya.” Sesungguhnya Allah bukan menyalahi janji.
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ وَقُوْدُ النَّارِۗ ١٠
innalladzîna kafarû lan tughniya ‘an-hum amwâluhum wa lâ aulâduhum minallâhi syai’â, wa ulâ’ika hum waqûdun-nârSesungguhnya orang-orang yang digunakan kufur, bukan akan berguna bagi mereka sedikit pun harta benda dan juga anak-anak merekan (untuk menyelamatkan diri) dari (azab) Allah. Mereka itulah material bakar api neraka.
كَدَأْبِ اٰلِ فِرْعَوْنَۙ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاَخَذَهُمُ اللّٰهُ بِذُنُوْبِهِمْۗ وَاللّٰهُ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ١١
kada’bi âli fir’auna walladzîna ming qablihim, kadzdzabû bi’âyâtinâ, fa akhadzahumullâhu bidzunûbihim, wallâhu syadîdul-‘iqâb
(Keadaan mereka) seperti keadaan pengikut Fir’aun serta orang-orang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Kami. Oleh sebab itu, Allah menyiksa mereka itu dikarenakan dosa-dosanya. Allah sangat keras hukuman-Nya.
قُلْ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَتُغْلَبُوْنَ وَتُحْشَرُوْنَ اِلٰى جَهَنَّمَۗ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ١٢
qul lilladzîna kafarû satughlabûna wa tuḫsyarûna ilâ jahannam, wa bi’sal-mihâd
Katakanlah (Nabi Muhammad) terhadap orang-orang yang kufur, “Kamu (pasti) akan dikalahkan juga digiring ke di (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.”
قَدْ كَانَ لَكُمْ اٰيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِ الْتَقَتَاۗ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَاُخْرٰى كَافِرَةٌ يَّرَوْنَهُمْ مِّثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِۗ وَاللّٰهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ ١٣
qad kâna lakum âyatun fî fi’atainiltaqatâ, fi’atun tuqâtilu fî sabîlillâhi wa ukhrâ kâfiratuy yaraunahum mitslaihim ra’yal-‘aîn, wallâhu yu’ayyidu binashrihî may yasyâ’, inna fî dzâlika la’ibratal li’ulil-abshâr
Sungguh, sudah ada tanda (bukti) bagimu pada dua golongan yang tersebut bertemu (dalam pertempuran. Satu golongan berperang ke jalan Allah dan juga (golongan) yang lain kafir yang digunakan mengawasi dengan mata kepala bahwa dia (golongan muslim) dua kali lipat jumlahnya. Allah menguatkan siapa yang mana Dia kehendaki dengan pertolongan-Nya. Sesungguhnya pada yang digunakan demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang tersebut mempunyai penglihatan (mata hati).
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ ١٤
zuyyina lin-nâsi ḫubbusy-syahawâti minan-nisâ’i wal-banîna wal-qanathîril-muqantharati minadz-dzahabi wal-fidldlati wal-khailil-musawwamati wal-an’âmi wal-ḫarts, dzâlika matâ’ul-ḫayâtid-dun-yâ, wallâhu ‘indahû ḫusnul-ma’âb
Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang mana terdiri dari perempuan, anak-anak, harta benda yang dimaksud bertimbun tak terhingga merupakan emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, lalu sawah ladang. Itulah kesenangan hidup pada planet juga ke sisi Allahlah tempat kembali yang dimaksud baik.
۞ قُلْ اَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِّنْ ذٰلِكُمْۗ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَاَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِۚ ١٥
qul a unabbi’ukum bikhairim min dzâlikum, lilladzînattaqau ‘inda rabbihim jannâtun tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ wa azwâjum muthahharatuw wa ridlwânum minallâh, wallâhu bashîrum bil-‘ibâd
Katakanlah, “Maukah aku beri tahukan kepadamu sesuatu yang lebih banyak baik daripada yang digunakan demikian itu?” Untuk orang-orang yang dimaksud bertakwa, di sisi Tuhan merek ada surga-surga yang mana mengalir pada bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal dalam dalamnya juga (untuk mereka) pasangan yang digunakan disucikan dan juga rida Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.
اَلَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اِنَّنَآ اٰمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِۚ ١٦
alladzîna yaqûlûna rabbanâ innanâ âmannâ faghfir lanâ dzunûbanâ wa qinâ ‘adzâban-nâr
(Yaitu) orang-orang yang dimaksud berdoa, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami benar-benar sudah beriman. Maka, ampunilah dosa-dosa kami dan juga selamatkanlah kami dari azab neraka.”
اَلصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْمُنْفِقِيْنَ وَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِالْاَسْحَارِ ١٧
ash-shâbirîna wash-shâdiqîna wal-qânitîna wal-munfiqîna wal-mustaghfirîna bil-as-ḫâr
(Juga) orang-orang yang sabar, benar, taat, dan juga berinfak, juga memohon ampunan pada akhir malam.
شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًا ۢ بِالْقِسْطِۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ١٨
syahidallâhu annahû lâ ilâha illâ huwa wal-malâ’ikatu wa ulul-‘ilmi qâ’imam bil-qisth, lâ ilâha illâ huwal-‘azîzul-ḫakîm
Allah menyatakan bahwa tak ada tuhan selain Dia, (Allah) yang tersebut menegakkan keadilan. (Demikian pula) para malaikat juga penduduk berilmu. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ١٩innad-dîna ‘indallâhil-islâm, wa makhtalafalladzîna ûtul-kitâba illâ mim ba’di mâ jâ’ahumul-‘ilmu baghyam bainahum, wa may yakfur bi’âyâtillâhi fa innallâha sarî’ul-ḫisâb
Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah ialah Islam. Orang-orang yang telah dilakukan diberi kitab tidaklah berselisih, kecuali setelahnya datang pengetahuan untuk merekan lantaran kedengkian pada antara mereka. Siapa yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan(-Nya).
فَاِنْ حَاۤجُّوْكَ فَقُلْ اَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلّٰهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِۗ وَقُلْ لِّلَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَالْاُمِّيّٖنَ ءَاَسْلَمْتُمْۗ فَاِنْ اَسْلَمُوْا فَقَدِ اهْتَدَوْاۚ وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلٰغُۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِࣖ ٢٠
fa in ḫâjjûka fa qul aslamtu waj-hiya lillâhi wa manittaba’an, wa qul lilladzîna ûtul-kitâba wal-ummiyyîna a aslamtum, fa in aslamû fa qadihtadau, wa in tawallau fa innamâ ‘alaikal-balâgh, wallâhu bashîrum bil-‘ibâd
Jika merek mendebat engkau (Nabi Muhammad) katakanlah, “Aku berserah diri terhadap Allah lalu (demikian pula) orang-orang yang dimaksud mengikutiku.” Katakanlah untuk orang-orang (Yahudi serta Nasrani) yang dimaksud sudah pernah diberi Kitab (Taurat lalu Injil) juga terhadap orang-orang yang dimaksud umi, “Sudahkah kamu masuk Islam?” Jika merekan telah lama masuk Islam, sungguh merek telah dilakukan mendapat petunjuk. Akan tetapi, jikalau mereka itu berpaling, sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.
اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِحَقٍّۖ وَّيَقْتُلُوْنَ الَّذِيْنَ يَأْمُرُوْنَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِۙ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ ٢١
innalladzîna yakfurûna bi’âyâtillâhi wa yaqtulûnan-nabiyyîna bighairi ḫaqqiw wa yaqtulûnalladzîna ya’murûna bil-qisthi minan-nâsi fa basysyir-hum bi’adzâbin alîm
Sesungguhnya orang-orang yang dimaksud kufur terhadap ayat-ayat Allah, membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar), dan juga membunuh manusia yang mana memerintahkan keadilan, sampaikanlah terhadap merekan kabar ‘gembira’ tentang azab yang pedih.
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۖ وَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ ٢٢
ulâ’ikalladzîna ḫabithat a’mâluhum fid-dun-yâ wal-âkhirati wa mâ lahum min nâshirîn
Mereka itulah orang-orang yang tersebut amalnya sia-sia di bola dan juga di akhirat serta tak ada bagi mereka satu penolong pun.
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ اُوْتُوْا نَصِيْبًا مِّنَ الْكِتٰبِ يُدْعَوْنَ اِلٰى كِتٰبِ اللّٰهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلّٰى فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ وَهُمْ مُّعْرِضُوْنَ ٢٣
a lam tara ilalladzîna ûtû nashîbam minal-kitâbi yud’auna ilâ kitâbillâhi liyaḫkuma bainahum tsumma yatawallâ farîqum min-hum wa hum mu’ridlûn
Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) memerhatikan orang-orang (Yahudi) yang digunakan sudah pernah diberi bagian (pengetahuan) kitab (Taurat)? Mereka diajak (berpegang) pada kitab Allah untuk memutuskan (perkara) ke antara mereka, kemudian segolongan dari merekan berpaling dan juga menolak (kebenaran).
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ اِلَّآ اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۖ وَّغَرَّهُمْ فِيْ دِيْنِهِمْ مَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ ٢٤
dzâlika bi’annahum qâlû lan tamassanan-nâru illâ ayyâmam ma’dûdâtiw wa gharrahum fî dînihim mâ kânû yaftarûn
Demikian itu disebabkan bahwa merek berkata, “Api neraka tiada akan menyentuh kami, kecuali beberapa hitungan hari saja.” Mereka teperdaya di agamanya oleh apa yang tersebut setiap saat merek ada-adakan.
فَكَيْفَ اِذَا جَمَعْنٰهُمْ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيْهِۗ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ٢٥
fa kaifa idzâ jama’nâhum liyaumil lâ raiba fîh, wa wuffiyat kullu nafsim mâ kasabat wa hum lâ yudhlamûnBagaimanakah (nanti) jikalau merek Kami kumpulkan pada hari (Kiamat) yang mana bukan ada keraguan padanya dan juga setiap jiwa diberi balasan yang mana sempurna sesuai dengan apa yang tersebut telah lama dikerjakannya tanpa dizalimi?
قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ٢٦
qulillâhumma mâlikal-mulki tu’til-mulka man tasyâ’u wa tanzi’ul-mulka mim man tasyâ’u wa tu’izzu man tasyâ’u wa tudzillu man tasyâ’, biyadikal-khaîr, innaka ‘alâ kulli syai’ing qadîr
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan terhadap siapa pun yang dimaksud Engkau kehendaki serta Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang dimaksud Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang mana Engkau kehendaki kemudian Engkau hinakan siapa yang dimaksud Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa menghadapi segala sesuatu.
تُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ٢٧
tûlijul-laila fin-nahâri wa tûlijun-nahâra fil-laili wa tukhrijul-ḫayya minal-mayyiti wa tukhrijul-mayyita minal-ḫayyi wa tarzuqu man tasyâ’u bighairi ḫisâb
Engkau masukkan di malam hari ke pada siang serta Engkau masukkan siang ke pada malam. Engkau keluarkan yang tersebut hidup dari yang tersebut terhenti dan juga Engkau keluarkan yang mana meninggal dari yang digunakan hidup. Engkau berikan rezeki untuk siapa yang digunakan Engkau kehendaki tanpa perhitungan.”
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّٰهِ فِيْ شَيْءٍ اِلَّآ اَنْ تَتَّقُوْا مِنْهُمْ تُقٰىةًۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗۗ وَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ ٢٨l
â yattakhidzil-mu’minûnal-kâfirîna auliyâ’a min dûnil-mu’minîn, wa may yaf’al dzâlika fa laisa minallâhi fî syai’in illâ an tattaqû min-hum tuqâh, wa yuḫadzdzirukumullâhu nafsah, wa ilallâhil-mashîr
Janganlah orang-orang mukmin menjadikan warga kafir sebagai para wali dengan mengesampingkan orang-orang mukmin. Siapa yang melakukan itu, hal itu identik sekali tidak dari (ajaran) Allah, kecuali untuk merawat diri dari sesuatu yang dimaksud kamu takuti dari mereka. Allah mengingatkan kamu tentang diri-Nya (siksa-Nya). Hanya terhadap Allah tempat kembali.
قُلْ اِنْ تُخْفُوْا مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ اَوْ تُبْدُوْهُ يَعْلَمْهُ اللّٰهُۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٢٩
qul in tukhfû mâ fî shudûrikum au tubdûhu ya’lam-hullâh, wa ya’lamu mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, wallâhu ‘alâ kulli syai’ing qadîr
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu menyembunyikan apa yang dimaksud ada di hatimu atau kamu menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya.” Dia mengetahui apa yang dimaksud ada dalam langit juga apa yang mana ada di dalam bumi. Allah Mahakuasa menghadapi segala sesuatu.
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًاۛ وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْۤءٍۛ تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗٓ اَمَدًا ۢ بَعِيْدًاۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗۗ وَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِࣖ ٣٠
yauma tajidu kullu nafsim mâ ‘amilat min khairim muḫdlaraw wa mâ ‘amilat min sû’, tawaddu lau anna bainahâ wa bainahû amadam ba’îdâ, wa yuḫadzdzirukumullâhu nafsah, wallâhu ra’ûfum bil-‘ibâd
(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) melawan kebajikan yang telah dilakukan dikerjakannya dihadirkan, (begitu juga balasan) menghadapi kejahatan yang tersebut sudah ia kerjakan. Dia berharap seandainya ada jarak yang berjauhan antara beliau lalu hari itu. Allah mengingatkan kamu akan (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٣١
qul ing kuntum tuḫibbûnallâha fattabi’ûnî yuḫbibkumullâhu wa yaghfir lakum dzunûbakum, wallâhu ghafûrur raḫîm
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu serta mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ ٣٢
qul athî’ullâha war-rasûl, fa in tawallau fa innallâha lâ yuḫibbul-kâfirîn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Taatilah Allah serta Rasul(-Nya). Jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah tiada menyukai orang-orang kafir.”
۞ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرٰنَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ ٣٣
innallâhashthafâ âdama wa nûḫaw wa âla ibrâhîma wa âla ‘imrâna ‘alal-‘âlamîn
Sesungguhnya Allah telah dilakukan memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, juga keluarga Imran melawan seluruh alam (manusia pada zamannya masing-masing).
ذُرِّيَّةً ۢ بَعْضُهَا مِنْۢ بَعْضٍۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۚ ٣٤
dzurriyyatam ba’dluhâ mim ba’dl, wallâhu samî’un ‘alîm
(Mereka adalah) satu keturunan, sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang tersebut lain. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرٰنَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ٣٥
idz qâlatimra’atu ‘imrâna rabbi innî nadzartu laka mâ fî bathnî muḫarraran fa taqabbal minnî, innaka antas-samî’ul-‘alîm
(Ingatlah) saat istri Imran berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa yang mana ada di dalam di kandunganku murni untuk-Mu (berkhidmat ke Baitulmaqdis). Maka, terimalah (nazar itu) dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَآ اُنْثٰىۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْۗ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰىۚ وَاِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَاِنِّيْٓ اُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ ٣٦fa lammâ wadla’at-hâ qâlat rabbi innî wadla’tuhâ untsâ, wallâhu a’lamu bimâ wadla’at, wa laisadz-dzakaru kal-untsâ, wa innî sammaituhâ maryama wa innî u’îdzuhâ bika wa dzurriyyatahâ minasy-syaithânir-rajîm
Ketika melahirkannya, ia berkata, “Wahai Tuhanku, aku sudah melahirkan anak perempuan.” Padahal, Allah lebih besar tahu apa yang digunakan beliau (istri Imran) lahirkan. “Laki-laki tidaklah serupa dengan perempuan. Aku memberinya nama Maryam juga memohon perlindungan-Mu untuknya lalu anak cucunya dari setan yang mana terkutuk.”
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًاۖ وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّاۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًاۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَكِ هٰذَاۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ٣٧
fa taqabbalahâ rabbuhâ biqabûlin ḫasaniw wa ambatahâ nabâtan ḫasanaw wa kaffalahâ zakariyyâ, kullamâ dakhala ‘alaihâ zakariyyal-miḫrâba wajada ‘indahâ rizqâ, qâla yâ maryamu annâ laki hâdzâ, qâlat huwa min ‘indillâh, innallâha yarzuqu may yasyâ’u bighairi ḫisâb
Dia (Allah) menerimanya (Maryam) dengan penerimaan yang tersebut baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, serta mengemukakan pemeliharaannya terhadap Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemui ke mihrabnya, beliau mendapati makanan di dalam sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki terhadap siapa yang dimaksud Dia kehendaki tanpa perhitungan.
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗۚ قَالَ رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةًۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ ٣٨
hunâlika da’â zakariyyâ rabbah, qâla rabbi hab lî mil ladungka dzurriyyatan thayyibah, innaka samî’ud-du’â’
Di sanalah Zakaria berdoa terhadap Tuhannya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang tersebut baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”
فَنَادَتْهُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَهُوَ قَاۤىِٕمٌ يُّصَلِّيْ فِى الْمِحْرَابِۙ اَنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيٰى مُصَدِّقًا ۢ بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَسَيِّدًا وَّحَصُوْرًا وَّنَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ٣٩
fa nâdat-hul-malâ’ikatu wa huwa qâ’imuy yushallî fil-miḫrâbi annallâha yubasysyiruka biyaḫyâ mushaddiqam bikalimatim minallâhi wa sayyidaw wa ḫashûraw wa nabiyyam minash-shâliḫîn
Lalu, Malaikat (Jibril) memanggilnya di mana beliau berdiri melaksanakan salat di dalam mihrab, “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya yang mana membenarkan kalimat dari Allah, (menjadi) anutan, menahan diri (dari hawa nafsu), juga pribadi nabi di antara orang-orang saleh.”
قَالَ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَاَتِيْ عَاقِرٌۗ قَالَ كَذٰلِكَ اللّٰهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاۤءُ ٤٠
qâla rabbi annâ yakûnu lî ghulâmuw wa qad balaghaniyal-kibaru wamra’atî ‘âqir, qâla kadzâlikallâhu yaf’alu mâ yasyâ’
Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku dapat mendapat anak, sedangkan aku telah sangat tua juga istriku pun mandul?” (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.”
قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِّيْٓ اٰيَةًۗ قَالَ اٰيَتُكَ اَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَةَ اَيَّامٍ اِلَّا رَمْزًاۗ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ كَثِيْرًا وَّسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِࣖ ٤١
qâla rabbij’al lî âyah, qâla âyatuka allâ tukalliman-nâsa tsalâtsata ayyâmin illâ ramzâ, wadzkur rabbaka katsîraw wa sabbiḫ bil-‘asyiyyi wal-ibkâr
Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah aku suatu tanda (kehamilan istriku).” Allah berfirman, “Tandanya bagimu adalah engkau tidak ada (dapat) berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya juga bertasbihlah pada waktu petang kemudian pagi hari.”
وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفٰىكِ عَلٰى نِسَاۤءِ الْعٰلَمِيْنَ ٤٢
wa idz qâlatil-malâ’ikatu yâ maryamu innallâhashthafâki wa thahharaki washthafâki ‘alâ nisâ’il-‘âlamîn
(Ingatlah) di mana Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah sudah pernah memilihmu, menyucikanmu, dan juga melebihkanmu ke menghadapi seluruh perempuan ke semesta alam (pada masa itu).
يٰمَرْيَمُ اقْنُتِيْ لِرَبِّكِ وَاسْجُدِيْ وَارْكَعِيْ مَعَ الرّٰكِعِيْنَ ٤٣
yâ maryamuqnutî lirabbiki wasjudî warka’î ma’ar-râki’în
Wahai Maryam, taatlah untuk Tuhanmu, sujudlah, kemudian rukuklah sama-sama orang-orang yang mana rukuk.”
ذٰلِكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهِ اِلَيْكَۗ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يُلْقُوْنَ اَقْلَامَهُمْ اَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَۖ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يَخْتَصِمُوْنَ ٤٤
dzâlika min ambâ’il-ghaibi nûḫîhi ilaîk, wa mâ kunta ladaihim idz yulqûna aqlâmahum ayyuhum yakfulu maryama wa mâ kunta ladaihim idz yakhtashimûn
Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad). Padahal, engkau tidaklah sama-sama mereka itu ketika merek melemparkan pena mereka (untuk mengundi) siapa dalam antara mereka itu yang mana akan memelihara Maryam kemudian engkau tiada sama-sama dia pada saat mereka bersengketa.
اِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُۖ اسْمُهُ الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيْهًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ ٤٥
idz qâlatil-malâ’ikatu yâ maryamu innallâha yubasysyiruki bikalimatim min-husmuhul-masîḫu ‘îsabnu maryama wajîhan fid-dun-yâ wal-âkhirati wa minal-muqarrabîn
(Ingatlah) saat Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang (kelahiran anak yang mana diciptakan) dengan kalimat dari-Nya, namanya Isa Almasih putra Maryam, manusia terkemuka dalam bola dan juga ke akhirat juga salah satunya orang-orang yang tersebut didekatkan (kepada Allah).
وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَّمِنَ الصّٰلِحِيْنَ ٤٦
wa yukallimun-nâsa fil-mahdi wa kahlaw wa minash-shâliḫîn
Dia berbicara dengan manusia (sewaktu) di buaian serta sewaktu telah dewasa juga salah satunya orang-orang saleh.”
قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌۗ قَالَ كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۗ اِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ٤٧
qâlat rabbi annâ yakûnu lî waladuw wa lam yamsasnî basyar, qâla kadzâlikillâhu yakhluqu mâ yasyâ’, idzâ qadlâ amran fa innamâ yaqûlu lahû kun fa yakûn
Dia (Maryam) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin saja aku akan mempunyai anak, padahal bukan ada orang laki-laki pun yang mana menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah menciptakan apa yang tersebut Dia kehendaki.” Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia semata-mata berkata padanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu.
وَيُعَلِّمُهُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۚ ٤٨
wa yu’allimuhul-kitâba wal-ḫikmata wat-taurâta wal-injîl
Dia (Allah) mengajarkan kepadanya (Isa) kitab, hikmah, Taurat, serta Injil.
وَرَسُوْلًا اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ەۙ اَنِّيْ قَدْ جِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْۙ اَنِّيْٓ اَخْلُقُ لَكُمْ مِّنَ الطِّيْنِ كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ فَاَنْفُخُ فِيْهِ فَيَكُوْنُ طَيْرًا ۢ بِاِذْنِ اللّٰهِۚ وَاُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ وَاُحْيِ الْمَوْتٰى بِاِذْنِ اللّٰهِۚ وَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُوْنَ وَمَا تَدَّخِرُوْنَۙ فِيْ بُيُوْتِكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ ٤٩
wa rasûlan ilâ banî isrâ’îla annî qad ji’tukum bi’âyatim mir rabbikum annî akhluqu lakum minath-thîni kahai’atith-thairi fa anfukhu fîhi fa yakûnu thairam bi’idznillâh, wa ubri’ul-akmaha wal-abrasha wa uḫyil-mautâ bi’idznillâh, wa unabbi’ukum bimâ ta’kulûna wa mâ taddakhirûna fî buyûtikum, inna fî dzâlika la’âyatal lakum ing kuntum mu’minîn
(Allah akan menjadikannya) sebagai orang rasul terhadap Bani Israil. (Isa berkata,) “Sesungguhnya aku sudah datang kepadamu dengan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, sesungguhnya aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah yang digunakan berbentuk seperti burung. Lalu, aku meniupnya sehingga berubah menjadi seekor burung dengan izin Allah. Aku menyembuhkan khalayak yang mana buta sejak dari lahir kemudian warga yang digunakan berpenyakit buras (belang) juga menghidupkan orang-orang berakhir dengan izin Allah. Aku beri tahukan kepadamu apa yang dimaksud kamu makan dan juga apa yang mana kamu simpan dalam rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kerasulanku) bagimu jikalau kamu orang-orang mukmin.
وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَلِاُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِيْ حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْۗ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ ٥٠
wa mushaddiqal limâ baina yadayya minat-taurâti wa li’uḫilla lakum ba’dlalladzî ḫurrima ‘alaikum wa ji’tukum bi’âyatim mir rabbikum, fattaqullâha wa athî’ûn
(Aku diutus untuk) membenarkan Taurat yang dimaksud (diturunkan) sebelumku dan juga untuk menghalalkan bagi kamu sebagian perkara yang dimaksud telah terjadi diharamkan untukmu. Aku datang kepadamu dengan mengakibatkan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Oleh lantaran itu, bertakwalah terhadap Allah kemudian taatlah kepadaku.
اِنَّ اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُۗ هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ ٥١
innallâha rabbî wa rabbukum fa’budûh, hâdzâ shirâthum mustaqîm
Sesungguhnya Allah itu Tuhanku lalu Tuhanmu. Oleh lantaran itu, sembahlah Dia. Inilah jalan yang digunakan lurus.”
۞ فَلَمَّآ اَحَسَّ عِيْسٰى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ اَنْصَارِيْٓ اِلَى اللّٰهِۗ قَالَ الْحَوَارِيُّوْنَ نَحْنُ اَنْصَارُ اللّٰهِۚ اٰمَنَّا بِاللّٰهِۚ وَاشْهَدْ بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ ٥٢
fa lammâ aḫassa ‘îsâ min-humul-kufra qâla man anshârî ilallâh, qâlal-ḫawâriyyûna naḫnu anshârullâh, âmannâ billâh, wasy-had bi’annâ muslimûn
Ketika Isa merasakan kekufuran merekan (Bani Israil), beliau berkata, “Siapakah yang digunakan akan berubah jadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawari (sahabat setianya) menjawab, “Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman untuk Allah dan juga saksikanlah sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.
رَبَّنَآ اٰمَنَّا بِمَآ اَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُوْلَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشّٰهِدِيْنَ ٥٣
rabbanâ âmannâ bimâ anzalta wattaba’nar-rasûla faktubnâ ma’asy-syâhidîn
Wahai Tuhan kami, kami sudah pernah beriman pada apa yang digunakan Engkau turunkan juga kami telah dilakukan mengikuti Rasul. Oleh lantaran itu, tetapkanlah kami dengan orang-orang yang dimaksud memberikan kesaksian.”
وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَࣖ ٥٤
wa makarû wa makarallâh, wallâhu khairul-mâkirîn
Mereka (orang-orang kafir) memproduksi tipu daya dan juga Allah pun membalas tipu daya (mereka). Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.
اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰٓى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ ٥٥
idz qâlallâhu yâ ‘îsâ innî mutawaffîka wa râfi’uka ilayya wa muthahhiruka minalladzîna kafarû wa jâ’ilulladzînattaba’ûka fauqalladzîna kafarû ilâ yaumil-qiyâmah, tsumma ilayya marji’ukum fa aḫkumu bainakum fîmâ kuntum fîhi takhtalifûn
(Ingatlah) pada saat Allah berfirman, “Wahai Isa, sesungguhnya Aku mengambilmu, mengangkatmu kepada-Ku, menyucikanmu dari orang-orang yang mana kufur, kemudian menjadikan orang-orang yang dimaksud mengikutimu tambahan unggul daripada orang-orang yang mana kufur hingga hari Kiamat. Kemudian, kepada-Kulah kamu kembali, sesudah itu Aku beri langkah tentang apa yang tersebut setiap saat kamu perselisihkan.
فَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَاُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۖ وَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ ٥٦
fa ammalladzîna kafarû fa u’adzdzibuhum ‘adzâban syadîdan fid-dun-yâ wal-âkhirati wa mâ lahum min nâshirîn
Adapun orang-orang yang kufur akan Aku azab merekan dengan azab yang dimaksud sangat keras ke dunia lalu pada akhirat lalu sekali-kali tiada ada penolong bagi mereka.”
وَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَيُوَفِّيْهِمْ اُجُوْرَهُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ ٥٧
wa ammalladzîna âmanû wa ‘amilush-shâliḫâti fa yuwaffîhim ujûrahum, wallâhu lâ yuḫibbudh-dhâlimîn
Sementara itu, orang-orang yang digunakan beriman juga beramal saleh akan Dia berikan pahala mereka itu dengan sempurna. Allah tidaklah menyukai orang-orang zalim.
ذٰلِكَ نَتْلُوْهُ عَلَيْكَ مِنَ الْاٰيٰتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ ٥٨
dzâlika natlûhu ‘alaika minal-âyâti wadz-dzikril-ḫakîm
Itulah (kisah Isa) yang Kami bacakan kepadamu (Nabi Muhammad) sebagian bukti-bukti (kebenaranmu sebagai rasul) kemudian peringatan keras yang penuh hikmah (Al-Qur’an).
اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ٥٩
inna matsala ‘îsâ ‘indallâhi kamatsali âdam, khalaqahû min turâbin tsumma qâla lahû kun fa yakûn
Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah kemudian berfirman kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu.
اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِّنَ الْمُمْتَرِيْنَ ٦٠
al-ḫaqqu mir rabbika fa lâ takum minal-mumtarîn
Kebenaran itu dari Tuhanmu. Oleh oleh sebab itu itu, janganlah engkau (Nabi Muhammad) termasuk orang-orang yang tersebut ragu.
فَمَنْ حَاۤجَّكَ فِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ اَبْنَاۤءَنَا وَاَبْنَاۤءَكُمْ وَنِسَاۤءَنَا وَنِسَاۤءَكُمْ وَاَنْفُسَنَا وَاَنْفُسَكُمْۗ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَّعْنَتَ اللّٰهِ عَلَى الْكٰذِبِيْنَ ٦١
fa man ḫâjjaka fîhi mim ba’di mâ jâ’aka minal-‘ilmi fa qul ta’âlau nad’u abnâ’anâ wa abnâ’akum wa nisâ’anâ wa nisâ’akum wa anfusanâ wa anfusakum, tsumma nabtahil fa naj’al la’natallâhi ‘alal-kâdzibîn
Siapa yang membantahmu di hal ini setelahnya datang ilmu kepadamu, maka katakanlah (Nabi Muhammad), “Marilah kita panggil anak-anak kami serta anak-anak kamu, istri-istri kami lalu istri-istri kamu, diri kami kemudian diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan terhadap para pendusta.”
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّۚ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ٦٢
inna hâdzâ lahuwal-qashashul-ḫaqq, wa mâ min ilâhin illallâh, wa innallâha lahuwal-‘azîzul-ḫakîm
Sesungguhnya ini benar-benar kisah yang tersebut hak. Tidak ada tuhan selain Allah, lalu sesungguhnya Allahlah yang mana benar-benar Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢ بِالْمُفْسِدِيْنَࣖ ٦٣
fa in tawallau fa innallâha ‘alîmum bil-mufsidîn
Jika merekan berpaling, (ketahuilah) bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang digunakan berbuat kerusakan.
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍ ۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ ٦٤
qul yâ ahlal-kitâbi ta’âlau ilâ kalimatin sawâ’im bainanâ wa bainakum allâ na’buda illallâha wa lâ nusyrika bihî syai’aw wa lâ yattakhidza ba’dlunâ ba’dlan arbâbam min dûnillâh, fa in tawallau fa qûlusy-hadû bi’annâ muslimûn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang dimaksud mirip antara kami juga kamu, (yakni) kita bukan menyembah selain Allah, kita tidaklah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, serta bukan (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” Jika dia berpaling, katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.”
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تُحَاۤجُّوْنَ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمَآ اُنْزِلَتِ التَّوْرٰىةُ وَالْاِنْجِيْلُ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِهٖۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ٦٥
yâ ahlal-kitâbi lima tuḫâjjûna fî ibrâhîma wa mâ unzilatit-taurâtu wal-injîlu illâ mim ba’dih, a fa lâ ta’qilûn
Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu berbantah-bantahan tentang Ibrahim? Padahal, Taurat dan juga Injil tiada diturunkan, kecuali setelahnya ia (Ibrahim). Apakah kamu bukan mengerti?
هٰٓاَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ حَاجَجْتُمْ فِيْمَا لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاۤجُّوْنَ فِيْمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ واَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ٦٦
hâ’antum hâ’ulâ’i ḫâjajtum fîmâ lakum bihî ‘ilmun fa lima tuḫâjjûna fîmâ laisa lakum bihî ‘ilm, wallâhu ya’lamu wa antum lâ ta’lamûn
Begitulah kamu. Kamu berbantah-bantahan tentang apa yang kamu ketahui, tetapi mengapa kamu berbantah-bantahan (juga) tentang apa yang dimaksud tak kamu ketahui? Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak ada mengetahui.
مَاكَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ٦٧
mâ kâna ibrâhîmu yahûdiyyaw wa lâ nashrâniyyaw wa lâking kâna ḫanîfam muslimâ, wa mâ kâna minal-musyrikîn
Ibrahim bukanlah pribadi Yahudi juga bukanlah pula individu Nasrani, melainkan beliau adalah manusia yang digunakan hanif lagi berserah diri (muslim). Dia bukanlah pula diantaranya (golongan) orang-orang musyrik.
اِنَّ اَوْلَى النَّاسِ بِاِبْرٰهِيْمَ لَلَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ وَهٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ وَاللّٰهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ ٦٨
inna aulan-nâsi bi’ibrâhîma lalladzînattaba’ûhu wa hâdzan-nabiyyu walladzîna âmanû, wallâhu waliyyul-mu’minîn
Sesungguhnya warga yang paling dekat dengan Ibrahim adalah orang-orang yang digunakan mengikutinya, Nabi ini (Nabi Muhammad), lalu orang-orang yang tersebut beriman. Allah adalah pelindung orang-orang mukmin.
وَدَّتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يُضِلُّوْنَكُمْۗ وَمَا يُضِلُّوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ ٦٩
waddath thâ’ifatum min ahlil-kitâbi lau yudlillûnakum, wa mâ yudlillûna illâ anfusahum wa mâ yasy’urûn
Segolongan Ahlulkitab ingin menyesatkan kamu. Padahal, dia tidak ada menyesatkan (siapa pun), kecuali diri merek sendiri. Akan tetapi, mereka tidaklah sadar.
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَاَنْتُمْ تَشْهَدُوْنَ ٧٠
yâ ahlal-kitâbi lima takfurûna bi’âyâtillâhi wa antum tasy-hadûn
Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)?
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَلْبِسُوْنَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَࣖ ٧١
yâ ahlal-kitâbi lima talbisûnal-ḫaqqa bil-bâthili wa taktumûnal-ḫaqqa wa antum ta’lamûn
Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang tersebut hak dengan yang mana batil serta kamu menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?
وَقَالَتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اٰمِنُوْا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوْٓا اٰخِرَهٗ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَۚ ٧٢
wa qâlath thâ’ifatum min ahlil-kitâbi âminû billadzî unzila ‘alalladzîna âmanû waj-han-nahâri wakfurû âkhirahû la’allahum yarji’ûn
Segolongan Ahlulkitab berkata (kepada sesamanya), “Berimanlah kamu pada apa yang tersebut diturunkan terhadap orang-orang yang beriman pada awal siang kemudian ingkarlah pada akhir (siang) agar dia kembali (pada kekufuran).
وَلَا تُؤْمِنُوْٓا اِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِيْنَكُمْۗ قُلْ اِنَّ الْهُدٰى هُدَى اللّٰهِۙ اَنْ يُّؤْتٰىٓ اَحَدٌ مِّثْلَ مَآ اُوْتِيْتُمْ اَوْ يُحَاۤجُّوْكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْۗ قُلْ اِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللّٰهِۚ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌۚ ٧٣
wa lâ tu’minû illâ liman tabi’a dînakum, qul innal-hudâ hudallâhi ay yu’tâ aḫadum mitsla mâ ûtîtum au yuḫâjjûkum ‘inda rabbikum, qul innal-fadlla biyadillâh, yu’tîhi may yasyâ’, wallâhu wâsi’un ‘alîm
Janganlah kamu percaya selain untuk khalayak yang tersebut mengikuti agamamu.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya petunjuk (yang sempurna) itu hanyalah petunjuk Allah. (Janganlah kamu percaya) bahwa seseorang akan diberi seperti apa yang mana diberikan untuk kamu atau mereka akan menyanggah kamu di dalam hadapan Tuhanmu.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya karunia itu pada tangan Allah. Dia menganugerahkannya terhadap siapa yang dimaksud Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”
يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ ٧٤
yakhtashshu biraḫmatihî may yasyâ’, wallâhu dzul-fadllil-‘adhîmDia menentukan rahmat-Nya untuk siapa yang tersebut Dia kehendaki lalu Allah mempunyai karunia yang tersebut besar.
۞ وَمِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مَنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُّؤَدِّهٖٓ اِلَيْكَۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِدِيْنَارٍ لَّا يُؤَدِّهٖٓ اِلَيْكَ اِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَاۤىِٕمًاۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لَيْسَ عَلَيْنَا فِى الْاُمِّيّٖنَ سَبِيْلٌۚ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ٧٥
wa min ahlil-kitâbi man in ta’man-hu biqinthâriy yu’addihî ilaîk, wa min-hum man in ta’man-hu bidînâril lâ yu’addihî ilaika illâ mâ dumta ‘alaihi qâ’imâ, dzâlika bi’annahum qâlû laisa ‘alainâ fil-ummiyyîna sabîl, wa yaqûlûna ‘alallâhil-kadziba wa hum ya’lamûn
Di antara Ahlulkitab ada pendatang yang tersebut apabila engkau percayakan kepadanya harta yang banyak, niscaya ia mengembalikannya kepadamu. Akan tetapi, ada (pula) pada antara mereka warga yang tersebut jikalau engkau percayakan kepadanya satu dinar, ia tidaklah mengembalikannya kepadamu, kecuali apabila engkau selalu menagihnya. Yang demikian itu disebabkan merekan berkata, “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang umi.” Mereka mengemukakan hal yang mana dusta terhadap Allah, padahal merek mengetahui.
بَلٰى مَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ وَاتَّقٰى فَاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ ٧٦
balâ man aufâ bi’ahdihî wattaqâ fa innallâha yuḫibbul-muttaqîn
Bukan begitu! Siapa yang mana menepati janji juga bertakwa, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.
اِنَّ الَّذِيْنَ يَشْتَرُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَاَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيْلًا اُولٰۤىِٕكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ وَلَا يَنْظُرُ اِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٧٧
innalladzîna yasytarûna bi’ahdillâhi wa aimânihim tsamanang qalîlan ulâ’ika lâ khalâqa lahum fil-âkhirati wa lâ yukallimuhumullâhu wa lâ yandhuru ilaihim yaumal-qiyâmati wa lâ yuzakkîhim wa lahum ‘adzâbun alîm
Sesungguhnya orang-orang yang tersebut memperjualbelikan janji Allah lalu sumpah-sumpah merek dengan nilai tukar murah, mereka itu itu tidaklah memperoleh bagian di dalam akhirat, Allah tiada akan menyapa mereka, tidak ada akan memperhatikan mereka pada hari Kiamat, dan juga tidak ada akan menyucikan mereka. Bagi mereka itu azab yang tersebut pedih.
وَاِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيْقًا يَّلْوٗنَ اَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتٰبِ لِتَحْسَبُوْهُ مِنَ الْكِتٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتٰبِۚ وَيَقُوْلُوْنَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۚ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ٧٨
wa inna min-hum lafarîqay yalwûna alsinatahum bil-kitâbi litaḫsabûhu minal-kitâbi wa mâ huwa minal-kitâb, wa yaqûlûna huwa min ‘indillâhi wa mâ huwa min ‘indillâh, wa yaqûlûna ‘alallâhil-kadziba wa hum ya’lamûn
Sesungguhnya di antara dia (Bani Israil) ada segolongan yang mana memutar-mutar lidahnya (ketika membaca) Alkitab agar kamu menyangka (yang mereka itu baca) itu sebagian dari Alkitab. Padahal, itu tidak dari Alkitab. Mereka berkata, “Itu dari Allah.” Padahal, itu tidak dari Allah. Mereka mengutarakan hal yang dusta terhadap Allah, sedangkan merekan mengetahui.
مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَۙ ٧٩
mâ kâna libasyarin ay yu’tiyahullâhul-kitâba wal-ḫukma wan-nubuwwata tsumma yaqûla lin-nâsi kûnû ‘ibâdal lî min dûnillâhi wa lâking kûnû rabbâniyyîna bimâ kuntum tu’allimûnal-kitâba wa bimâ kuntum tadrusûn
Tidak sepatutnya seseorang diberi Alkitab, hukum, dan juga kenabian oleh Allah, kemudian beliau berkata terhadap manusia, “Jadilah kamu para penyembahku, tidak (penyembah) Allah,” tetapi (hendaknya ia berkata), “Jadilah kamu para pengabdi Allah sebab kamu terus-menerus mengajarkan kitab juga mempelajarinya!”
وَلَا يَأْمُرَكُمْ اَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَالنَّبِيّٖنَ اَرْبَابًاۗ اَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ اِذْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَࣖ ٨٠
wa lâ ya’murakum an tattakhidzul-malâ’ikata wan-nabiyyîna arbâbâ, a ya’murukum bil-kufri ba’da idz antum muslimûn
Tidak (sepatutnya) pula beliau menyuruh kamu menjadikan para malaikat lalu para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) ia menyuruh kamu (berbuat) kekufuran pasca kamu berubah menjadi muslim?
وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ النَّبِيّٖنَ لَمَآ اٰتَيْتُكُمْ مِّنْ كِتٰبٍ وَّحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهٖ وَلَتَنْصُرُنَّهٗۗ قَالَ ءَاَقْرَرْتُمْ وَاَخَذْتُمْ عَلٰى ذٰلِكُمْ اِصْرِيْۗ قَالُوْٓا اَقْرَرْنَاۗ قَالَ فَاشْهَدُوْا وَاَنَا۠ مَعَكُمْ مِّنَ الشّٰهِدِيْنَ ٨١
wa idz akhadzallâhu mîtsâqan-nabiyyîna lamâ âtaitukum ming kitâbiw wa ḫikmatin tsumma jâ’akum rasûlum mushaddiqul limâ ma’akum latu’minunna bihî wa latanshurunnah, qâla a aqrartum wa akhadztum ‘alâ dzâlikum ishrî, qâlû aqrarnâ, qâla fasy-hadû wa ana ma’akum minasy-syâhidîn
(Ingatlah) pada saat Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Manakala Aku memberikan kitab dan juga hikmah kepadamu, kemudian datang terhadap kamu manusia rasul yang digunakan membenarkan apa yang dimaksud ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya kemudian menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui juga menerima perjanjian dengan-Ku melawan yang demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami mengakui.” Allah berfirman, “Kalau begitu, bersaksilah kamu (para nabi) dan juga Aku bermetamorfosis menjadi saksi (pula) sama-sama kamu.”
فَمَنْ تَوَلّٰى بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ٨٢
fa man tawallâ ba’da dzâlika fa ulâ’ika humul-fâsiqûnSiapa yang berpaling pasca itu, mereka itu itulah orang-orang fasik.
اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗٓ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ ٨٣
a fa ghaira dînillâhi yabghûna wa lahû aslama man fis-samâwâti wal-ardli thau’aw wa kar-haw wa ilaihi yurja’ûn
Mengapa mereka mencari agama selain agama Allah? Padahal, semata-mata kepada-Nya apa yang mana ada dalam langit dan juga dalam bumi berserah diri, baik dengan suka maupun terpaksa, lalu belaka kepada-Nya mereka dikembalikan.
قُلْ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۖ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ٨٤
qul âmannâ billâhi wa mâ unzila ‘alainâ wa mâ unzila ‘alâ ibrâhîma wa ismâ’îla wa is-ḫâqa wa ya’qûba wal-asbâthi wa mâ ûtiya mûsâ wa ‘îsâ wan-nabiyyûna mir rabbihim lâ nufarriqu baina aḫadim min-hum wa naḫnu lahû muslimûn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Kami beriman terhadap Allah juga pada apa yang mana diturunkan untuk kami juga yang tersebut diturunkan terhadap Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub beserta anak cucunya, dan juga apa yang digunakan diberikan terhadap Musa, Isa, dan juga para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidaklah membeda-bedakan individu pun ke antara dia juga hanya sekali kepada-Nya kami berserah diri.”
وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ٨٥
wa may yabtaghi ghairal-islâmi dînan fa lay yuqbala min-h, wa huwa fil-âkhirati minal-khâsirîn
Siapa yang tersebut mencari agama selain Islam, sekali-kali (agamanya) tidak ada akan diterima darinya lalu pada akhirat ia di antaranya orang-orang yang tersebut rugi.
كَيْفَ يَهْدِى اللّٰهُ قَوْمًا كَفَرُوْا بَعْدَ اِيْمَانِهِمْ وَشَهِدُوْٓا اَنَّ الرَّسُوْلَ حَقٌّ وَّجَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ٨٦
kaifa yahdillâhu qaumang kafarû ba’da îmânihim wa syahidû annar-rasûla ḫaqquw wa jâ’ahumul-bayyinât, wallâhu lâ yahdil-qaumadh-dhâlimîn
Bagaimana (mungkin) Allah akan memberi petunjuk untuk suatu kaum yang kufur pasca dia beriman lalu mengakui bahwa Rasul (Muhammad) itu benar dan juga bukti-bukti yang mana jelas telah terjadi sampai untuk mereka? Allah bukan memberi petunjuk terhadap kaum yang dimaksud zalim.
اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ اَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللّٰهِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَۙ ٨٧
ulâ’ika jazâ’uhum anna ‘alaihim la’natallâhi wal-malâ’ikati wan-nâsi ajma’în
Mereka itu, balasannya adalah ditimpa laknat Allah, para malaikat, dan juga manusia seluruhnya.
خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۚ لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُوْنَۙ ٨٨
khâlidîna fîhâ, lâ yukhaffafu ‘an-humul-‘adzâbu wa lâ hum yundharûn
Mereka kekal di dalamnya (laknat). Tidak akan diringankan azab dari mereka, juga mereka bukan diberi penangguhan,
اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ وَاَصْلَحُوْاۗ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٨٩
illalladzîna tâbû mim ba’di dzâlika wa ashlaḫû, fa innallâha ghafûrur raḫîm
kecuali orang-orang yang digunakan bertobat setelahnya itu juga memperbaiki (dirinya). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْدَ اِيْمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوْا كُفْرًا لَّنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الضَّاۤلُّوْنَ ٩٠
innalladzîna kafarû ba’da îmânihim tsummazdâdû kufral lan tuqbala taubatuhum, wa ulâ’ika humudl-dlâllûn
Sesungguhnya orang-orang yang mana kufur setelahnya beriman, kemudian bertambah kekufurannya, tidak ada akan diterima tobatnya dan juga merekan itulah orang-orang sesat.
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْ اَحَدِهِمْ مِّلْءُ الْاَرْضِ ذَهَبًا وَّلَوِ افْتَدٰى بِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ وَّمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَࣖ ٩١
innalladzîna kafarû wa mâtû wa hum kuffârun fa lay yuqbala min aḫadihim mil’ul-ardli dzahabaw wa lawiftadâ bih, ulâ’ika lahum ‘adzâbun alîmuw wa mâ lahum min nâshirîn
Sesungguhnya orang-orang yang kufur kemudian berakhir sebagai orang-orang kafir tidak ada akan diterima (tebusan) dari seseorang di dalam antara merek sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya beliau hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mana mendapat azab yang dimaksud pedih kemudian tak ada penolong bagi mereka.
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ ٩٢
lan tanâlul-birra ḫattâ tunfiqû mimmâ tuḫibbûn, wa mâ tunfiqû min syai’in fa innallâha bihî ‘alîm
Kamu sekali-kali bukan akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang mana kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.
۞ كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِلَّا مَا حَرَّمَ اِسْرَاۤءِيْلُ عَلٰى نَفْسِهٖ مِنْ قَبْلِ اَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرٰىةُۗ قُلْ فَأْتُوْا بِالتَّوْرٰىةِ فَاتْلُوْهَآ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٩٣
kulluth-tha’âmi kâna ḫillal libanî isrâ’îla illâ mâ ḫarrama isrâ’îlu ‘alâ nafsihî ming qabli an tunazzalat-taurâh, qul fa’tû bit-taurâti fatlûhâ ing kuntum shâdiqîn
Semua makanan halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang mana diharamkan oleh Israil (Ya’qub) menghadapi dirinya sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bawalah Taurat tak lama kemudian bacalah, apabila kamu orang-orang yang dimaksud benar.”
فَمَنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ٩٤
fa maniftarâ ‘alallâhil-kadziba mim ba’di dzâlika fa ulâ’ika humudh-dhâlimûn
Maka, siapa yang tersebut mengada-adakan kebohongan terhadap Allah setelahnya itu, mereka itulah orang-orang zalim.
قُلْ صَدَقَ اللّٰهُۗ فَاتَّبِعُوْا مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ٩٥
qul shadaqallâh, fattabi’û millata ibrâhîma ḫanîfâ, wa mâ kâna minal-musyrikîn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Mahabenar Allah (dalam firman-Nya).” Maka, ikutilah agama Ibrahim yang dimaksud hanif serta beliau tidaklah diantaranya orang-orang musyrik.
اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ ٩٦
inna awwala baitiw wudli’a lin-nâsi lalladzî bibakkata mubârakaw wa hudal lil-‘âlamîn
Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang digunakan dibangun untuk manusia adalah (Baitullah) yang dimaksud (berada) di Bakkah (Makkah) yang diberkahi juga menjadi petunjuk bagi seluruh alam.
فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ ٩٧
fîhi âyâtum bayyinâtum maqâmu ibrâhîm, wa man dakhalahû kâna âminâ, wa lillâhi ‘alan-nâsi ḫijjul-baiti manistathâ’a ilaihi sabîlâ, wa mang kafara fa innallâha ghaniyyun ‘anil-‘âlamîn
Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang digunakan jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang mana memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) penduduk yang dimaksud mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mana mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَاللّٰهُ شَهِيْدٌ عَلٰى مَا تَعْمَلُوْنَ ٩٨
qul yâ ahlal-kitâbi lima takfurûna bi’âyâtillâhi wallâhu syahîdun ‘alâ mâ ta’malûn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu terus-menerus mengingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang digunakan kamu kerjakan?”
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ تَبْغُوْنَهَا عِوَجًا وَّاَنْتُمْ شُهَدَاۤءُۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ٩٩
qul yâ ahlal-kitâbi lima tashuddûna ‘an sabîlillâhi man âmana tabghûnahâ ‘iwajaw wa antum syuhadâ’, wa mallâhu bighâfilin ‘ammâ ta’malûn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu terus-menerus menghalang-halangi orang-orang yang dimaksud beriman dari jalan Allah? Kamu (memang) menghendakinya (jalan Allah itu) berubah menjadi bengkok, sedangkan kamu menyaksikan. Allah bukan lengah terhadap apa yang digunakan kamu kerjakan.”
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تُطِيْعُوْا فَرِيْقًا مِّنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ يَرُدُّوْكُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ كٰفِرِيْنَ ١٠٠
yâ ayyuhalladzîna âmanû in tuthî’û farîqam minalladzîna ûtul-kitâba yaruddûkum ba’da îmânikum kâfirînWahai orang-orang yang mana beriman, apabila kamu mengikuti segolongan dari warga yang diberi Alkitab, niscaya mereka akan mengatasi kamu berubah menjadi orang-orang kafir setelahnya beriman.
وَكَيْفَ تَكْفُرُوْنَ وَاَنْتُمْ تُتْلٰى عَلَيْكُمْ اٰيٰتُ اللّٰهِ وَفِيْكُمْ رَسُوْلُهٗۗ وَمَنْ يَّعْتَصِمْ بِاللّٰهِ فَقَدْ هُدِيَ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍࣖ ١٠١
wa kaifa takfurûna wa antum tutlâ ‘alaikum âyâtullâhi wa fîkum rasûluh, wa may ya’tashim billâhi fa qad hudiya ilâ shirâthim mustaqîm
Bagaimana kamu (sampai) berubah jadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan terhadap kamu lalu Rasul-Nya (Nabi Muhammad) pun berada di dalam tengah-tengah kamu? Siapa yang tersebut berpegang teguh pada (agama) Allah, sungguh ia telah lama diberi petunjuk ke jalan yang digunakan lurus.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٠٢
yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha ḫaqqa tuqâtihî wa lâ tamûtunna illâ wa antum muslimûn
Wahai orang-orang yang digunakan beriman, bertakwalah terhadap Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan juga janganlah kamu terhenti kecuali di keadaan muslim.
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ ١٠٣
wa’tashimû biḫablillâhi jamî’aw wa lâ tafarraqû wadzkurû ni’matallâhi ‘alaikum idz kuntum a’dâ’an fa allafa baina qulûbikum fa ashbaḫtum bini’matihî ikhwânâ, wa kuntum ‘alâ syafâ ḫufratim minan-nâri fa angqadzakum min-hâ, kadzâlika yubayyinullâhu lakum âyâtihî la’allakum tahtadûn
Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, kemudian ingatlah nikmat Allah kepadamu pada saat kamu dahulu bermusuhan, kemudian Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu berubah jadi bersaudara. (Ingatlah pula saat itu) kamu berada di dalam tepi jurang neraka, berikutnya Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٠٤
waltakum mingkum ummatuy yad’ûna ilal-khairi wa ya’murûna bil-ma’rûfi wa yan-hauna ‘anil-mungkar, wa ulâ’ika humul-mufliḫûn
Hendaklah ada di antara kamu segolongan penduduk yang menyeru untuk kebajikan, menyuruh (berbuat) yang digunakan makruf, lalu menghindari dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang tersebut beruntung.
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُۗ وَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌۙ ١٠٥
wa lâ takûnû kalladzîna tafarraqû wakhtalafû mim ba’di mâ jâ’ahumul-bayyinât, wa ulâ’ika lahum ‘adzâbun ‘adhîm
Janganlah kamu berubah menjadi seperti orang-orang yang mana bercerai-berai juga berselisih setelahnya sampai untuk merek keterangan yang mana jelas. Mereka itulah orang-orang yang mana mendapat azab yang digunakan sangat berat.
يَّوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَّتَسْوَدُّ وُجُوْهٌۚ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اسْوَدَّتْ وُجُوْهُهُمْۗ اَ كَفَرْتُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ فَذُوْقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُوْنَ ١٠٦
yauma tabyadldlu wujûhuw wa taswaddu wujûh, fa ammalladzînaswaddat wujûhuhum, a kafartum ba’da îmânikum fa dzûqul-‘adzâba bimâ kuntum takfurûn
(Azab itu terjadi) pada hari pada saat ada wajah yang dimaksud putih berseri lalu ada pula wajah yang hitam kusam. Adapun orang-orang yang tersebut berwajah hitam kusam (kepada merek dikatakan), “Mengapa kamu kafir pasca beriman? Oleh sebab itu, rasakanlah azab yang mana disebabkan kekafiranmu.”
وَاَمَّا الَّذِيْنَ ابْيَضَّتْ وُجُوْهُهُمْ فَفِيْ رَحْمَةِ اللّٰهِۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ١٠٧
wa ammalladzînabyadldlat wujûhuhum fa fî raḫmatillâh, hum fîhâ khâlidûn
Adapun orang-orang yang tersebut berwajah putih berseri, merekan berada pada rahmat Allah (surga). Mereka kekal di dalam dalamnya.
تِلْكَ اٰيٰتُ اللّٰهِ نَتْلُوْهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّۗ وَمَا اللّٰهُ يُرِيْدُ ظُلْمًا لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٨
tilka âyâtullâhi natlûhâ ‘alaika bil-ḫaqq, wa mallâhu yurîdu dhulmal lil-‘âlamîn
Itulah ayat-ayat Allah yang dimaksud Kami bacakan kepadamu dengan benar juga tidaklah Allah berkehendak melakukan kezaliman pada semesta alam.
وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُࣖ ١٠٩
wa lillâhi mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, wa ilallâhi turja’ul-umûr
Milik Allahlah apa yang tersebut ada di langit serta apa yang digunakan ada ke bumi lalu belaka untuk Allah segala urusan dikembalikan.
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ ١١٠
kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nâsi ta’murûna bil-ma’rûfi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu’minûna billâh, walau âmana ahlul-kitâbi lakâna khairal lahum, min-humul-mu’minûna wa aktsaruhumul-fâsiqûn
Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang mana dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang mana makruf, menghindari dari yang dimaksud mungkar, lalu beriman untuk Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih banyak baik bagi mereka. Di antara merek ada yang dimaksud beriman juga kebanyakan merek adalah orang-orang fasik.
لَنْ يَّضُرُّوْكُمْ اِلَّآ اَذًىۗ وَاِنْ يُّقَاتِلُوْكُمْ يُوَلُّوْكُمُ الْاَدْبَارَۗ ثُمَّ لَا يُنْصَرُوْنَ ١١١
lay yadlurrûkum illâ adzâ, wa iy yuqâtilûkum yuwallûkumul-adbâr, tsumma lâ yunsharûn
Mereka tidak ada akan membahayakanmu, kecuali gangguan-gangguan kecil saja. Jika merekan memerangi kamu, niscaya mereka itu berbalik ke belakang (kalah), kemudian dia tiada mendapat pertolongan.
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ ١١٢
dluribat ‘alaihimudz-dzillatu aina mâ tsuqifû illâ biḫablim minallâhi wa ḫablim minan-nâsi wa bâ’û bighadlabim minallâhi wa dluribat ‘alaihimul-maskanah, dzâlika bi’annahum kânû yakfurûna bi’âyâtillâhi wa yaqtulûnal-ambiyâ’a bighairi ḫaqq, dzâlika bimâ ‘ashaw wa kânû ya’tadûn
Kehinaan ditimpakan untuk merekan di dalam mana sekadar dia berada, kecuali jikalau merekan (berpegang) pada tali (agama) Allah dan juga tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka pasti mendapat murka dari Allah lalu kesengsaraan ditimpakan terhadap mereka. Yang demikian itu dikarenakan mereka itu mengingkari ayat-ayat Allah kemudian membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang dimaksud benar). Yang demikian itu sebab mereka durhaka dan juga melampaui batas.
۞ لَيْسُوْا سَوَاۤءًۗ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اُمَّةٌ قَاۤىِٕمَةٌ يَّتْلُوْنَ اٰيٰتِ اللّٰهِ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُوْنَ ١١٣
laisû sawâ’â, min ahlil-kitâbi ummatung qâ’imatuy yatlûna âyâtillâhi ânâ’al-laili wa hum yasjudûn
Mereka tidaklah sama. Di antara Ahlulkitab ada golongan yang lurus. Mereka membaca ayat-ayat Allah pada di malam hari hari di keadaan bersujud (salat).
يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ١١٤
yu’minûna billâhi wal-yaumil-âkhiri wa ya’murûna bil-ma’rûfi wa yan-hauna ‘anil-mungkari wa yusâri’ûna fil-khairât, wa ulâ’ika minash-shâliḫîn
Mereka beriman untuk Allah lalu hari Akhir, menyuruh (berbuat) yang digunakan makruf, menjaga dari dari yang dimaksud mungkar, serta bersegera (mengerjakan) beragam kebajikan. Mereka itu satu di antaranya orang-orang saleh.
وَمَا يَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ يُّكْفَرُوْهُۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ بِالْمُتَّقِيْنَ ١١٥
wa mâ yaf’alû min khairin fa lay yukfarûh, wallâhu ‘alîmum bil-muttaqîn
Kebaikan apa pun yang tersebut mereka itu kerjakan, merek tidaklah akan dihalangi dari (pahala)-nya. Allah Maha Mengetahui orang-orang bertakwa.
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ١١٦
innalladzîna kafarû lan tughniya ‘an-hum amwâluhum wa lâ aulâduhum minallâhi syai’â, wa ulâ’ika ash-ḫâbun-nâr, hum fîhâ khâlidûn
Sesungguhnya orang-orang yang dimaksud kufur, baik harta maupun anak-anaknya, sedikit pun tak dapat menolak (azab) Allah. Mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalam dalamnya.
مَثَلُ مَا يُنْفِقُوْنَ فِيْ هٰذِهِ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيْحٍ فِيْهَا صِرٌّ اَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فَاَهْلَكَتْهُۗ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللّٰهُ وَلٰكِنْ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ ١١٧
matsalu mâ yunfiqûna fî hâdzihil-ḫayâtid-dun-yâ kamatsali rîḫin fîhâ shirrun ashâbat ḫartsa qaumin dhalamû anfusahum fa ahlakat-h, wa mâ dhalamahumullâhu wa lâkin anfusahum yadhlimûn
Perumpamaan harta yang dimaksud merek infakkan pada pada keberadaan globus ini adalah ibarat angin yang tersebut mengandung hawa sangat dingin yang tersebut menimpa vegetasi (milik) suatu kaum yang digunakan menzalimi diri sendiri, kemudian (angin itu) merusaknya. Allah tidaklah menzalimi mereka, tetapi dia yang digunakan menzalimi diri sendiri.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِّنْ دُوْنِكُمْ لَا يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالًاۗ وَدُّوْا مَا عَنِتُّمْۚ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاۤءُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۖ وَمَا تُخْفِيْ صُدُوْرُهُمْ اَكْبَرُۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ ١١٨
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tattakhidzû bithânatam min dûnikum lâ ya’lûnakum khabâlâ, waddû mâ ‘anittum, qad badatil-baghdlâ’u min afwâhihim wa mâ tukhfî shudûruhum akbar, qad bayyannâ lakumul-âyâti ing kuntum ta’qilûn
Wahai orang-orang yang tersebut beriman, janganlah kamu mengambil teman kepercayaan dari orang-orang pada luar kalangan (agama)-mu (karena) merekan tiada henti-hentinya (mendatangkan) kemudaratan bagimu. Mereka menginginkan apa yang mana menyusahkanmu. Sungguh, sudah nyata kebencian dari mulut mereka dan juga apa yang merekan sembunyikan di hati lebih besar besar. Sungguh, Kami sudah menerangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jikalau kamu berpikir.
هٰٓاَنْتُمْ اُولَاۤءِ تُحِبُّوْنَهُمْ وَلَا يُحِبُّوْنَكُمْ وَتُؤْمِنُوْنَ بِالْكِتٰبِ كُلِّهٖۚ وَاِذَا لَقُوْكُمْ قَالُوْٓا اٰمَنَّاۖ وَاِذَا خَلَوْا عَضُّوْا عَلَيْكُمُ الْاَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِۗ قُلْ مُوْتُوْا بِغَيْظِكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ ١١٩
hâ’antum ulâ’i tuḫibbûnahum wa lâ yuḫibbûnakum wa tu’minûna bil-kitâbi kullih, wa idzâ laqûkum qâlû âmannâ wa idzâ khalau ‘adldlû ‘alaikumul-anâmila minal-ghaîdh, qul mûtû bighaidhikum, innallâha ‘alîmum bidzâtish-shudûr
Begitulah kamu. Kamu menyukai mereka, padahal merek tidak ada menyukaimu, juga kamu beriman pada semua kitab. Apabila dia berjumpa denganmu, mereka itu berkata, “Kami beriman.” Apabila merek menyendiri, merekan menggigit ujung jari lantaran murka kepadamu. Katakanlah, “Matilah kamu lantaran kemurkaanmu itu!” Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
اِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْۖ وَاِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَّفْرَحُوْا بِهَاۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْـًٔاۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌࣖ ١٢٠
in tamsaskum ḫasanatun tasu’hum wa in tushibkum sayyi’atuy yafraḫû bihâ, wa in tashbirû wa tattaqû lâ yadlurrukum kaiduhum syai’â, innallâha bimâ ya’malûna muḫîth
Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) merek bersedih hati. Adapun apabila kamu tertimpa bencana, merekan bergembira karenanya. Jika kamu bersabar kemudian bertakwa, tidaklah tipu daya merek akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala yang mana dia kerjakan.
وَاِذْ غَدَوْتَ مِنْ اَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِيْنَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ ١٢١
wa idz ghadauta min ahlika tubawwi’ul-mu’minîna maqâ’ida lil-qitâl, wallâhu samî’un ‘alîm
(Ingatlah) sewaktu engkau (Nabi Muhammad) berangkat pada pagi hari meninggalkan keluargamu untuk mengatur orang-orang mukmin pada pos-pos pertempuran. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
اِذْ هَمَّتْ طَّۤاىِٕفَتٰنِ مِنْكُمْ اَنْ تَفْشَلَاۙ وَاللّٰهُ وَلِيُّهُمَاۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ١٢٢
idz hammath thâ’ifatâni mingkum an tafsyalâ wallâhu waliyyuhumâ, wa ‘alallâhi falyatawakkalil-mu’minûn
(Ingatlah) di mana dua golongan dari pihak kamu ingin (mundur) oleh sebab itu takut, padahal Allah adalah penolong mereka. Oleh oleh sebab itu itu, hendaklah terhadap Allah semata orang-orang mukmin bertawakal.
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ١٢٣
wa laqad nasharakumullâhu bibadriw wa antum adzillah, fattaqullâha la’allakum tasykurûn
Sungguh, Allah benar-benar telah dilakukan menolong kamu pada Perang Badar, padahal kamu (pada ketika itu) adalah orang-orang lemah. Oleh dikarenakan itu, bertakwalah untuk Allah agar kamu bersyukur.
اِذْ تَقُوْلُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ اَلَنْ يَّكْفِيَكُمْ اَنْ يُّمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلٰثَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُنْزَلِيْنَۗ ١٢٤
idz taqûlu lil-mu’minîna a lay yakfiyakum ay yumiddakum rabbukum bitsalâtsati âlâfim minal-malâ’ikati munzalîn
(Ingatlah) pada saat engkau (Nabi Muhammad) menyatakan untuk orang-orang mukmin, “Apakah tidak ada cukup bagimu bahwa Tuhanmu membantumu dengan tiga ribu malaikat yang digunakan diturunkan (dari langit)?”
بَلٰٓىۙ اِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِيْنَ ١٢٥
balâ in tashbirû wa tattaqû wa ya’tûkum min faurihim hâdzâ yumdidkum rabbukum bikhamsati âlâfim minal-malâ’ikati musawwimîn
“Ya (cukup).” Jika kamu bersabar kemudian bertakwa, kemudian merekan datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang mana memakai tanda.
وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى لَكُمْ وَلِتَطْمَىِٕنَّ قُلُوْبُكُمْ بِهٖۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِۙ ١٢٦
wa mâ ja’alahullâhu illâ busyrâ lakum wa litathma’inna qulûbukum bih, wa man-nashru illâ min ‘indillâhil-‘azîzil-ḫakîm
Allah tidak ada menjadikannya (pertolongan itu) kecuali belaka sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)-mu dan juga agar hatimu tenang karenanya. Tidak ada kemenangan selain dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
لِيَقْطَعَ طَرَفًا مِّنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْ يَكْبِتَهُمْ فَيَنْقَلِبُوْا خَاۤىِٕبِيْنَ ١٢٧
liyaqtha’a tharafam minalladzîna kafarû au yakbitahum fa yangqalibû khâ’ibîn
(Hal itu dilakukan) untuk membinasakan segolongan khalayak yang kufur atau untuk menjadikan mereka itu hina sehingga merekan kembali tanpa memperoleh apa pun.
لَيْسَ لَكَ مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ اَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَاِنَّهُمْ ظٰلِمُوْنَ ١٢٨
laisa laka minal-amri syai’un au yatûba ‘alaihim au yu’adzdzibahum fa innahum dhâlimûn
Hal itu sejenis sekali tidak menjadi urusanmu (Nabi Muhammad), apakah Allah menerima tobat mereka itu atau mengazabnya oleh sebab itu sesungguhnya mereka orang-orang zalim.
وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ يَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌࣖ ١٢٩
wa lillâhi mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, yaghfiru limay yasyâ’u wa yu’adzdzibu may yasyâ’, wallâhu ghafûrur raḫîm
Milik Allahlah segala yang dimaksud ada ke langit lalu segala yang digunakan ada ke bumi. Dia mengampuni siapa yang tersebut Dia kehendaki dan juga mengazab siapa yang dimaksud Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰوٓا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةًۖ وَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ ١٣٠
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ ta’kulur-ribâ adl’âfam mudlâ’afataw wattaqullâha la’allakum tufliḫûn
Wahai orang-orang yang tersebut beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda serta bertakwalah terhadap Allah agar kamu beruntung.
وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْٓ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَۚ ١٣١wattaqun-nârallatî u’iddat lil-kâfirînLindungilah dirimu dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir.
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۚ ١٣٢
wa athî’ullâha war-rasûla la’allakum tur-ḫamûn
Taatilah Allah dan juga Rasul (Nabi Muhammad) agar kamu diberi rahmat.
۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣
wa sâri’û ilâ maghfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘ardluhas-samâwâtu wal-ardlu u’iddat lil-muttaqîn
Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu kemudian surga (yang) luasnya (seperti) langit juga bumi yang mana disediakan bagi orang-orang yang tersebut bertakwa,
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤
alladzîna yunfiqûna fis-sarrâ’i wadl-dlarrâ’i wal-kâdhimînal-ghaidha wal-‘âfîna ‘anin-nâs, wallâhu yuḫibbul-muḫsinîn
(yaitu) orang-orang yang mana selalu berinfak, baik ke waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mana mengendalikan kemurkaannya, kemudian orang-orang yang digunakan memaafkan (kesalahan) penduduk lain. Allah mencintai orang-orang yang dimaksud berbuat kebaikan.
وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ١٣٥
walladzîna idzâ fa’alû fâḫisyatan au dhalamû anfusahum dzakarullâha fastaghfarû lidzunûbihim, wa may yaghfirudz-dzunûba illallâh, wa lam yushirrû ‘alâ mâ fa’alû wa hum ya’lamûn
Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, dia (segera) mengingat Allah tak lama kemudian memohon ampunan berhadapan dengan dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang mana dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun bukan meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka itu mengetahui(-nya).
اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَجَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ وَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَۗ ١٣٦
ulâ’ika jazâ’uhum maghfiratum mir rabbihim wa jannâtun tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ, wa ni’ma ajrul-‘âmilîn
Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan merek serta surga-surga yang tersebut mengalir ke bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. (Itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang tersebut mengerjakan (amal-amal saleh).
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌۙ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ ١٣٧
qad khalat ming qablikum sunanun fa sîrû fil-ardli fandhurû kaifa kâna ‘âqibatul-mukadzdzibîn
Sungguh, telah terjadi berlalu sebelum kamu sunah-sunah (Allah). Oleh dikarenakan itu, berjalanlah ke (segenap penjuru) bumi dan juga perhatikanlah bagaimana kesudahan para pendusta (rasul-rasul).
هٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَّمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ ١٣٨
hâdzâ bayânul lin-nâsi wa hudaw wa mau’idhatul lil-muttaqîn
Inilah (Al-Qur’an) suatu informasi yang tersebut jelas untuk semua manusia, petunjuk, kemudian pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ١٣٩
wa lâ tahinû wa lâ taḫzanû wa antumul-a’launa ing kuntum mu’minîn
Janganlah kamu (merasa) lemah juga jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling lebih tinggi (derajatnya) apabila kamu orang-orang mukmin.
اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗۗ وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ ١٤٠
iy yamsaskum qar-ḫun fa qad massal-qauma qar-ḫum mitsluh, wa tilkal-ayyâmu nudâwiluhâ bainan-nâs, wa liya’lamallâhulladzîna âmanû wa yattakhidza mingkum syuhadâ’, wallâhu lâ yuḫibbudh-dhâlimîn
Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka dia pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Masa (kejayaan juga kehancuran) itu Kami pergilirkan ke antara manusia (agar merekan mendapat pelajaran) dan juga Allah mengetahui orang-orang beriman (yang sejati) lalu sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Allah tak menyukai orang-orang zalim.
وَلِيُمَحِّصَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَمْحَقَ الْكٰفِرِيْنَ ١٤١
wa liyumaḫḫishallâhulladzîna âmanû wa yam-ḫaqal-kâfirîn
(Pergiliran yang disebutkan juga) agar Allah membersihkan orang-orang yang mana beriman (dari dosa mereka) serta membinasakan orang-orang kafir.
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصّٰبِرِيْنَ ١٤٢
am ḫasibtum an tadkhulul-jannata wa lammâ ya’lamillâhulladzîna jâhadû mingkum wa ya’lamash-shâbirîn
Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di dalam antara kamu dan juga belum nyata pula orang-orang yang dimaksud sabar.
وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ اَنْ تَلْقَوْهُۖ فَقَدْ رَاَيْتُمُوْهُ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَࣖ ١٤٣
wa laqad kuntum tamannaunal-mauta ming qabli an talqauhu fa qad ra’aitumûhu wa antum tandhurûn
Sungguh, kamu benar-benar mengharapkan berakhir (syahid) sebelum kamu menghadapinya (peperangan). Maka, (sekarang) kamu sungguh sudah pernah mengawasi (peperangan itu) juga menyaksikan (kematian).
وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيَجْزِى اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ ١٤٤
wa mâ muḫammadun illâ rasûl, qad khalat ming qablihir-rusul, a fa im mâta au qutilangqalabtum ‘alâ a’qâbikum, wa may yangqalib ‘alâ ‘aqibaihi fa lay yadlurrallâha syai’â, wa sayajzillâhusy-syâkirîn
(Nabi) Muhammad hanyalah seseorang rasul. Sebelumnya telah terjadi berlalu beberapa rasul. Apakah jikalau ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang digunakan berbalik ke belakang, maka ia bukan akan mendatangkan mudarat terhadap Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan terhadap orang-orang yang bersyukur.
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًاۗ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۚ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الْاٰخِرَةِ نُؤْتِهٖ مِنْهَاۗ وَسَنَجْزِى الشّٰكِرِيْنَ ١٤٥
wa mâ kâna linafsin an tamûta illâ bi’idznillâhi kitâbam mu’ajjalâ, wa may yurid tsawâbad-dun-yâ nu’tihî min-hâ, wa may yurid tsawâbal-âkhirati nu’tihî min-hâ, wa sanajzisy-syâkirîn
Setiap yang dimaksud bernyawa bukan akan mati, kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang digunakan sudah ditentukan waktunya. Siapa yang digunakan menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu juga siapa yang digunakan menghendaki pahala akhirat, niscaya Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu. Kami akan memberi balasan terhadap orang-orang yang dimaksud bersyukur.
وَكَاَيِّنْ مِّنْ نَّبِيٍّ قٰتَلَۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَآ اَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ ١٤٦
wa ka’ayyim min nabiyying qâtala ma’ahû ribbiyyûna katsîr, fa mâ wahanû limâ ashâbahum fî sabîlillâhi wa mâ dla’ufû wa mastakânû, wallâhu yuḫibbush-shâbirîn
Betapa berbagai nabi yang tersebut berperang didampingi beberapa jumlah besar dari pengikut(-nya) yang dimaksud bertakwa. Mereka tidak ada (menjadi) lemah oleh sebab itu bencana yang digunakan menimpanya di dalam jalan Allah, tak patah semangat, lalu tiada (pula) menyerah (kepada musuh). Allah mencintai orang-orang yang sabar.
وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ اِلَّآ اَنْ قَالُوْا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاِسْرَافَنَا فِيْٓ اَمْرِنَا وَثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ١٤٧
wa mâ kâna qaulahum illâ ang qâlû rabbanaghfir lanâ dzunûbanâ wa isrâfanâ fî amrinâ wa tsabbit aqdâmanâ wanshurnâ ‘alal-qaumil-kâfirîn
Tidak lain ucapan merek kecuali doa, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami kemudian tindakan-tindakan kami yang dimaksud berlebihan pada urusan kami, tetapkanlah pembangunan kami, dan juga tolonglah kami terhadap kaum yang mana kafir.”
فَاٰتٰىهُمُ اللّٰهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَࣖ ١٤٨
fa âtâhumullâhu tsawâbad-dun-yâ wa ḫusna tsawâbil-âkhirah, wallâhu yuḫibbul-muḫsinîn
Maka, Allah menganugerahi dia balasan (di) planet serta pahala yang tersebut baik (di) akhirat. Allah mencintai orang-orang yang mana berbuat kebaikan.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تُطِيْعُوا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَرُدُّوْكُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوْا خٰسِرِيْنَ ١٤٩
yâ ayyuhalladzîna âmanû in tuthî’ulladzîna kafarû yaruddûkum ‘alâ a’qâbikum fa tangqalibû khâsirîn
Wahai orang-orang yang beriman, jikalau kamu menaati orang-orang yang tersebut kufur, niscaya mereka itu akan mengatasi kamu ke belakang (murtad). Akibatnya, kamu akan kembali pada keadaan merugi.
بَلِ اللّٰهُ مَوْلٰىكُمْۚ وَهُوَ خَيْرُ النّٰصِرِيْنَ ١٥٠
balillâhu maulâkum, wa huwa khairun nâshirîn
Namun, (hanya) Allahlah pelindungmu lalu Dia penolong yang mana terbaik.
سَنُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَٓا اَشْرَكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًاۚ وَمَأْوٰىهُمُ النَّارُۗ وَبِئْسَ مَثْوَى الظّٰلِمِيْنَ ١٥١
sanulqî fî qulûbilladzîna kafarur-ru’ba bimâ asyrakû billâhi mâ lam yunazzil bihî sulthânâ, wa ma’wâhumun-nâr, wa bi’sa matswadh-dhâlimîn
Kami akan memasukkan rasa takut ke di hati orang-orang yang digunakan kufur dikarenakan mereka itu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tersebut Allah tiada menurunkan keterangan tentangnya. Tempat kembali mereka itu adalah neraka. (Itulah) seburuk-buruk tempat tinggal (bagi) orang-orang zalim.
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّٰهُ وَعْدَهٗٓ اِذْ تَحُسُّوْنَهُمْ بِاِذْنِهٖۚ حَتّٰىٓ اِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِى الْاَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَآ اَرٰىكُمْ مَّا تُحِبُّوْنَۗ مِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الْاٰخِرَةَۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْۚ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ ١٥٢
wa laqad shadaqakumullâhu wa’dahû idz taḫussûnahum bi’idznih, ḫattâ idzâ fasyiltum wa tanâza’tum fil-amri wa ‘ashaitum mim ba’di mâ arâkum mâ tuḫibbûn, mingkum may yurîdud-dun-yâ wa mingkum may yurîdul-âkhirah, tsumma sharafakum ‘an-hum liyabtaliyakum, wa laqad ‘afâ ‘angkum, wallâhu dzû fadllin ‘alal-mu’minîn
Sungguh, Allah benar-benar telah lama memenuhi janji-Nya kepadamu pada saat kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada ketika kamu (dalam keadaan) lemah, berselisih di urusan itu, dan juga mengabaikan (perintah Rasul) setelahnya Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada pemukim yang dimaksud menghendaki bola dan juga di antara kamu ada (pula) pendatang yang dimaksud menghendaki akhirat. Kemudian, Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu. Sungguh, Dia benar-benar telah lama memaafkan kamu. Allah mempunyai karunia (yang diberikan) terhadap orang-orang mukmin.
۞ اِذْ تُصْعِدُوْنَ وَلَا تَلْوٗنَ عَلٰٓى اَحَدٍ وَّالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ فِيْٓ اُخْرٰىكُمْ فَاَثَابَكُمْ غَمًّا ۢ بِغَمٍّ لِّكَيْلَا تَحْزَنُوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا مَآ اَصَابَكُمْۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ١٥٣
idz tush’idûna wa lâ talwûna ‘alâ aḫadiw war-rasûlu yad’ûkum fî ukhrâkum fa atsâbakum ghammam bighammil likai lâ taḫzanû ‘alâ mâ fâtakum wa lâ mâ ashâbakum, wallâhu khabîrum bimâ ta’malûn
(Ingatlah) ketika kamu lari serta tiada menoleh terhadap siapa pun, sedangkan Rasul (Muhammad) memanggilmu dari belakang. Oleh oleh sebab itu itu, Allah menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan agar kamu tak bersedih hati (lagi) terhadap apa yang luput dari kamu kemudian terhadap apa yang digunakan menimpamu. Allah Mahateliti terhadap apa yang dimaksud kamu kerjakan.
ثُمَّ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ الْغَمِّ اَمَنَةً نُّعَاسًا يَّغْشٰى طَۤاىِٕفَةً مِّنْكُمْۙ وَطَۤاىِٕفَةٌ قَدْ اَهَمَّتْهُمْ اَنْفُسُهُمْ يَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِۗ يَقُوْلُوْنَ هَلْ لَّنَا مِنَ الْاَمْرِ مِنْ شَيْءٍۗ قُلْ اِنَّ الْاَمْرَ كُلَّهٗ لِلّٰهِۗ يُخْفُوْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ مَّا لَا يُبْدُوْنَ لَكَۗ يَقُوْلُوْنَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هٰهُنَاۗ قُلْ لَّوْ كُنْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِيْنَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ اِلٰى مَضَاجِعِهِمْۚ وَلِيَبْتَلِيَ اللّٰهُ مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِيْ قُلُوْبِكُمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ ١٥٤
tsumma anzala ‘alaikum mim ba’dil-ghammi amanatan nu’âsay yaghsyâ thâ’ifatam mingkum wa thâ’ifatung qad ahammat-hum anfusuhum yadhunnûna billâhi ghairal-ḫaqqi dhannal-jâhiliyyah, yaqûlûna hal lanâ minal-amri min syaî’, qul innal-amra kullahû lillâh, yukhfûna fî anfusihim mâ lâ yubdûna lak, yaqûlûna lau kâna lanâ minal-amri syai’um mâ qutilnâ hâhunâ, qul lau kuntum fî buyûtikum labarazalladzîna kutiba ‘alaihimul-qatlu ilâ madlâji’ihim, wa liyabtaliyallâhu mâ fî shudûrikum wa liyumaḫḫisha mâ fî qulûbikum, wallâhu ‘alîmum bidzâtish-shudûr
Setelah kamu ditimpa kesedihan, kemudian Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang tersebut meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dilakukan mencemaskan diri mereka sendiri. Mereka berprasangka yang tersebut tidaklah benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, “Adakah sesuatu yang digunakan dapat kita perbuat pada urusan ini?” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan di hatinya apa yang mana bukan merek terangkan kepadamu. Mereka berkata, “Seandainya ada sesuatu yang dapat kami perbuat pada urusan ini, niscaya kami bukan akan dibunuh (dikalahkan) di dalam sini.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya kamu ada di dalam rumahmu, niscaya orang-orang yang telah lama ditetapkan akan berakhir terbunuh itu meninggalkan (juga) ke tempat merek terbunuh.” Allah (berbuat demikian) untuk menguji yang ada pada dadamu kemudian untuk membersihkan yang digunakan ada pada hatimu. Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۙ اِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطٰنُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوْاۚ وَلَقَدْ عَفَا اللّٰهُ عَنْهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌࣖ ١٥٥
innalladzîna tawallau mingkum yaumaltaqal-jam’âni innamastazallahumusy-syaithânu biba’dli mâ kasabû, wa laqad ‘afallâhu ‘an-hum, innallâha ghafûrun ḫalîm
Sesungguhnya orang-orang yang digunakan berpaling di dalam antara kamu pada hari ketika dua pasukan bertemu, sesungguhnya mereka itu hanyalah digelincirkan oleh setan disebabkan sebagian kesalahan (dosa) yang digunakan telah terjadi dia perbuat. Allah benar-benar telah dilakukan memaafkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَقَالُوْا لِاِخْوَانِهِمْ اِذَا ضَرَبُوْا فِى الْاَرْضِ اَوْ كَانُوْا غُزًّى لَّوْ كَانُوْا عِنْدَنَا مَا مَاتُوْا وَمَا قُتِلُوْاۚ لِيَجْعَلَ اللّٰهُ ذٰلِكَ حَسْرَةً فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ وَاللّٰهُ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ١٥٦
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ takûnû kalladzîna kafarû wa qâlû li’ikhwânihim idzâ dlarabû fil-ardli au kânû ghuzzal lau kânû ‘indanâ mâ mâtû wa mâ qutilû, liyaj’alallâhu dzâlika ḫasratan fî qulûbihim, wallâhu yuḫyî wa yumît, wallâhu bimâ ta’malûna bashîr
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah seperti orang-orang yang kufur juga berbicara tentang saudara-saudaranya, apabila merekan mengadakan perjalanan di dalam bumi atau berperang, “Seandainya mereka itu masih dengan kami, tentulah merek bukan meninggal serta tidak ada terbunuh.” (Allah membiarkan mereka bersikap demikian) oleh sebab itu Allah hendak menjadikan itu (kelak) sebagai penyesalan di dalam hati mereka.
وَلَىِٕنْ قُتِلْتُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ١٥٧
wa la’ing qutiltum fî sabîlillâhi au muttum lamaghfiratum minallâhi wa raḫmatun khairum mimmâ yajma’ûn
Sungguh, jikalau kamu gugur pada jalan Allah atau mati, pastilah ampunan Allah dan juga rahmat-Nya lebih banyak baik (bagimu) daripada apa (harta rampasan) yang digunakan merek kumpulkan.
وَلَىِٕنْ مُّتُّمْ اَوْ قُتِلْتُمْ لَاِلَى اللّٰهِ تُحْشَرُوْنَ ١٥٨
wa la’im muttum au qutiltum la’ilallâhi tuḫsyarûn
Sungguh, apabila kamu tertutup atau gugur, pastilah terhadap Allah kamu dikumpulkan.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ١٥٩
fa bimâ raḫmatim minallâhi linta lahum, walau kunta fadhdhan ghalîdhal-qalbi lanfadldlû min ḫaulika fa’fu ‘an-hum wastaghfir lahum wa syâwir-hum fil-amr, fa idzâ ‘azamta fa tawakkal ‘alallâh, innallâha yuḫibbul-mutawakkilîn
Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan juga berhati kasar, tentulah mereka itu akan menjauh dari sekitarmu. Oleh dikarenakan itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, serta bermusyawarahlah dengan dia di segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah dilakukan membulatkan tekad, bertawakallah terhadap Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang digunakan bertawakal.
اِنْ يَّنْصُرْكُمُ اللّٰهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْۚ وَاِنْ يَّخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَنْصُرُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِهٖۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ١٦٠
iy yanshurkumullâhu fa lâ ghâliba lakum, wa iy yakhdzulkum fa man dzalladzî yanshurukum mim ba’dih, wa ‘alallâhi falyatawakkalil-mu’minûn
Jika Allah menolongmu, tidaklah ada yang dimaksud (dapat) mengalahkanmu kemudian apabila Dia membiarkanmu (tidak memberimu pertolongan), siapa yang dimaksud (dapat) menolongmu setelahnya itu? Oleh akibat itu, hendaklah terhadap Allah hanya orang-orang mukmin bertawakal.
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ اَنْ يَّغُلَّۗ وَمَنْ يَّغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۚ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ١٦١
wa mâ kâna linabiyyin ay yaghull, wa may yaghlul ya’ti bimâ ghalla yaumal-qiyâmah, tsumma tuwaffâ kullu nafsim mâ kasabat wa hum lâ yudhlamûn
Tidak layak individu nabi menyelewengkan (harta rampasan perang). Siapa yang dimaksud menyelewengkan (-nya), niscaya pada hari Kiamat beliau akan datang menghadirkan apa yang mana diselewengkannya itu. Kemudian, setiap warga akan diberi balasan secara sempurna sesuai apa yang merekan lakukan dan juga merek tiada dizalimi.
اَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللّٰهِ كَمَنْۢ بَاۤءَ بِسَخَطٍ مِّنَ اللّٰهِ وَمَأْوٰىهُ جَهَنَّمُۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ١٦٢
a fa manittaba’a ridlwânallâhi kamam bâ’a bisakhathim minallâhi wa ma’wâhu jahannam, wa bi’sal-mashîr
Apakah khalayak yang tersebut mengikuti (jalan) rida Allah identik dengan penduduk yang digunakan kembali dengan menghadirkan kemurkaan dari Allah serta tempatnya adalah (neraka) Jahanam? Itulah seburuk-buruk tempat kembali.
هُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌ ۢ بِمَا يَعْمَلُوْنَ ١٦٣
hum darajâtun ‘indallâh, wallâhu bashîrum bimâ ya’malûnMereka bertingkat-tingkat di dalam sisi Allah. Allah Maha Melihat apa yang digunakan dia kerjakan.
لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ١٦٤
laqad mannallâhu ‘alal-mu’minîna idz ba’atsa fîhim rasûlam min anfusihim yatlû ‘alaihim âyâtihî wa yuzakkîhim wa yu’allimuhumul-kitâba wal-ḫikmah, wa ing kânû ming qablu lafî dlalâlim mubîn
Sungguh, Allah benar-benar sudah pernah memberi karunia terhadap orang-orang mukmin ketika (Dia) mengutus dalam tengah-tengah mereka manusia Rasul (Muhammad) dari kalangan dia sendiri yang tersebut membacakan terhadap mereka itu ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan juga mengajarkan terhadap mereka itu Kitab Suci (Al-Qur’an) juga hikmah. Sesungguhnya merekan sebelum itu benar-benar di kesesatan yang tersebut nyata.
اَوَلَمَّآ اَصَابَتْكُمْ مُّصِيْبَةٌ قَدْ اَصَبْتُمْ مِّثْلَيْهَاۙ قُلْتُمْ اَنّٰى هٰذَاۗ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اَنْفُسِكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ١٦٥
a wa lammâ ashâbatkum mushîbatung qad ashabtum mitslaihâ qultum annâ hâdzâ, qul huwa min ‘indi anfusikum, innallâha ‘alâ kulli syai’ing qadîr
Apakah saat kamu ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu sudah memperoleh (kenikmatan) dua kali lipatnya (pada Perang Badar), kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Mahakuasa melawan segala sesuatu.
وَمَآ اَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِ فَبِاِذْنِ اللّٰهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِيْنَۙ ١٦٦
wa mâ ashâbakum yaumaltaqal-jam’âni fa bi’idznillâhi wa liya’lamal-mu’minîn
Apa yang digunakan menimpa kamu pada hari saat dua pasukan bertemu berlangsung menghadapi izin Allah juga agar Dia mengetahui siapa penduduk (yang benar-benar) beriman
وَلِيَعْلَمَ الَّذِيْنَ نَافَقُوْاۖ وَقِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَوِ ادْفَعُوْاۗ قَالُوْا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَّاتَّبَعْنٰكُمْۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَىِٕذٍ اَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْاِيْمَانِۚ يَقُوْلُوْنَ بِاَفْوَاهِهِمْ مَّا لَيْسَ فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُوْنَۚ ١٦٧
wa liya’lamalladzîna nâfaqû wa qîla lahum ta’âlau qâtilû fî sabîlillâhi awidfa’û, qâlû lau na’lamu qitâlal lattaba’nâkum, hum lil-kufri yauma’idzin aqrabu min-hum lil-îmân, yaqûlûna bi’afwâhihim mâ laisa fî qulûbihim, wallâhu a’lamu bimâ yaktumûn
dan mengetahui orang-orang yang mana munafik. Dikatakan terhadap mereka, “Marilah berperang di dalam jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).” Mereka menjawab, “Seandainya kami mengetahui (bagaimana cara) berperang, tentulah kami mengikutimu.” Mereka pada hari itu lebih tinggi dekat pada kekufuran daripada keimanan. Mereka memaparkan dengan mulutnya sesuatu yang mana tiada ada pada hatinya. Allah lebih lanjut mengetahui segala sesuatu yang dimaksud merek sembunyikan.
اَلَّذِيْنَ قَالُوْا لِاِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوْا لَوْ اَطَاعُوْنَا مَا قُتِلُوْاۗ قُلْ فَادْرَءُوْا عَنْ اَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ١٦٨
alladzîna qâlû li’ikhwânihim wa qa’adû lau athâ’ûnâ mâ qutilû, qul fadra’û ‘an anfusikumul-mauta ing kuntum shâdiqîn
(Mereka itu adalah) orang-orang yang dimaksud berbicara tentang saudara-saudaranya (yang terlibat berperang serta terbunuh), sedangkan merekan sendiri bukan turut berperang, “Seandainya dia mengikuti kami, tentulah mereka tak terbunuh.” Katakanlah, “Cegahlah kematian itu dari dirimu jikalau kamu orang-orang benar.”
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًاۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ ١٦٩
wa lâ taḫsabannalladzîna qutilû fî sabîlillâhi amwâtâ, bal aḫyâ’un ‘inda rabbihim yurzaqûn
Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang tersebut gugur dalam jalan Allah itu mati. Sebenarnya, merek itu hidup juga dianugerahi rezeki dalam sisi Tuhannya.
فَرِحِيْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۙ وَيَسْتَبْشِرُوْنَ بِالَّذِيْنَ لَمْ يَلْحَقُوْا بِهِمْ مِّنْ خَلْفِهِمْۙ اَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۘ ١٧٠
fariḫîna bimâ âtâhumullâhu min fadllihî wa yastabsyirûna billadzîna lam yal-ḫaqû bihim min khalfihim allâ khaufun ‘alaihim wa lâ hum yaḫzanûn
Mereka bergembira dengan karunia yang tersebut Allah anugerahkan kepadanya juga bergirang hati menghadapi (keadaan) orang-orang yang tersebut berada dalam belakang yang digunakan belum menyusul mereka, yaitu bahwa bukan ada rasa takut pada mereka itu juga mereka itu tidak ada bersedih hati.
۞ يَسْتَبْشِرُوْنَ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَفَضْلٍۗ وَاَنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُؤْمِنِيْنَࣖ ١٧١
yastabsyirûna bini’matim minallâhi wa fadll, wa annallâha lâ yudlî’u ajral-mu’minîn
Mereka bergirang hati dengan nikmat juga karunia dari Allah serta bahwa sesungguhnya Allah tidaklah menyia-nyiakan pahala orang-orang mukmin,
اَلَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِلّٰهِ وَالرَّسُوْلِ مِنْۢ بَعْدِ مَآ اَصَابَهُمُ الْقَرْحُۖ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا اَجْرٌ عَظِيْمٌۚ ١٧٢
alladzînastajâbû lillâhi war-rasûli mim ba’di mâ ashâbahumul-qar-ḫu lilladzîna aḫsanû min-hum wattaqau ajrun ‘adhîm
(yaitu) orang-orang yang tersebut memenuhi (seruan) Allah kemudian Rasul setelahnya mereka menderita luka-luka (dalam Perang Uhud). Orang-orang yang tersebut berbuat kebaikan juga bertakwa di dalam antara dia akan mendapat pahala yang mana sangat besar,
اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ١٧٣
alladzîna qâla lahumun-nâsu innan-nâsa qad jama’û lakum fakhsyauhum fa zâdahum îmânaw wa qâlû ḫasbunallâhu wa ni’mal-wakîl
(yaitu) mereka yang mana (ketika ada) orang-orang mengutarakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) sudah menghimpun (pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh akibat itu, takutlah untuk mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman merekan serta mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan juga Dia sebaik-baik pelindung.”
فَانْقَلَبُوْا بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوْۤءٌۙ وَّاتَّبَعُوْا رِضْوَانَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَظِيْمٍ ١٧٤
fangqalabû bini’matim minallâhi wa fadllil lam yamsas-hum sû’uw wattaba’û ridlwânallâh, wallâhu dzû fadllin ‘adhîm
Mereka kembali dengan nikmat dan juga karunia dari Allah. Mereka tidaklah ditimpa suatu bencana lalu merek mengikuti (jalan) rida Allah. Allah mempunyai karunia yang mana besar.
اِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطٰنُ يُخَوِّفُ اَوْلِيَاۤءَهٗۖ فَلَا تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ١٧٥
innamâ dzâlikumusy-syaithânu yukhawwifu auliyâ’ahû fa lâ takhâfûhum wa khâfûni ing kuntum mu’minîn
Sesungguhnya dia hanyalah setan yang digunakan menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya. Oleh dikarenakan itu, janganlah takut terhadap mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, apabila kamu orang-orang mukmin.
وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِيْنَ يُسَارِعُوْنَ فِى الْكُفْرِۚ اِنَّهُمْ لَنْ يَّضُرُّوا اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ اَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِى الْاٰخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌۚ ١٧٦
wa lâ yaḫzungkalladzîna yusâri’ûna fil-kufr, innahum lay yadlurrullâha syai’â, yurîdullâhu allâ yaj’ala lahum ḫadhdhan fil-âkhirati wa lahum ‘adzâbun ‘adhîm
Janganlah engkau (Nabi Muhammad) dirisaukan oleh orang-orang yang dimaksud dengan cepat melakukan kekufuran. Sesungguhnya sedikit pun mereka itu tidak ada merugikan Allah. Allah tidak ada akan memberi bagian (pahala) untuk dia ke akhirat juga merekan akan mendapat azab yang sangat besar.
اِنَّ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الْكُفْرَ بِالْاِيْمَانِ لَنْ يَّضُرُّوا اللّٰهَ شَيْـًٔاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ١٧٧
innalladzînasytarawul-kufra bil-îmâni lay yadlurrullâha syai’â, wa lahum ‘adzâbun alîm
Sesungguhnya orang-orang yang membeli kekufuran dengan iman sedikit pun tak merugikan Allah juga akan mendapat azab yang digunakan sangat pedih.
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ خَيْرٌ لِّاَنْفُسِهِمْۗ اِنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ لِيَزْدَادُوْٓا اِثْمًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ ١٧٨
wa lâ yaḫsabannalladzîna kafarû annamâ numlî lahum khairul li’anfusihim, innamâ numlî lahum liyazdâdû itsmâ, wa lahum ‘adzâbum muhîn
Jangan sekali-kali orang-orang kafir mengira bahwa sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepadanya baik bagi dirinya. Sesungguhnya Kami memberinya tenggang waktu belaka agar dosa mereka itu makin bertambah lalu dia akan mendapat azab yang menghinakan.
مَا كَانَ اللّٰهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلٰى مَآ اَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتّٰى يَمِيْزَ الْخَبِيْثَ مِنَ الطَّيِّبِۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَجْتَبِيْ مِنْ رُّسُلِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۖ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۚ وَاِنْ تُؤْمِنُوْا وَتَتَّقُوْا فَلَكُمْ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ١٧٩
mâ kânallâhu liyadzaral-mu’minîna ‘alâ mâ antum ‘alaihi ḫattâ yamîzal-khabîtsa minath-thayyib, wa mâ kânallâhu liyuthli’akum ‘alal-ghaibi wa lâkinnallâha yajtabî mir rusulihî may yasyâ’u fa âminû billâhi wa rusulih, wa in tu’minû wa tattaqû fa lakum ajrun ‘adhîm
Allah tiada akan membiarkan orang-orang mukmin pada keadaan sebagaimana kamu sekarang ini, (tetapi Allah akan mengujinya) sehingga Dia membedakan yang dimaksud buruk dari yang mana baik. Allah bukan akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang dimaksud gaib, tetapi Allah memilih siapa yang digunakan Dia kehendaki pada antara rasul-rasul-Nya. Oleh sebab itu, berimanlah untuk Allah lalu rasul-rasul-Nya. Jika kamu beriman juga bertakwa, kamu akan mendapat pahala yang dimaksud sangat besar.
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ هُوَ خَيْرًا لَّهُمْۗ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْۗ سَيُطَوَّقُوْنَ مَا بَخِلُوْا بِهٖ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ وَلِلّٰهِ مِيْرَاثُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌࣖ ١٨٠
wa lâ yaḫsabannalladzîna yabkhalûna bimâ âtâhumullâhu min fadllihî huwa khairal lahum, bal huwa syarrul lahum, sayuthawwaqûna mâ bakhilû bihî yaumal-qiyâmah, wa lillâhi mîrâtsus-samâwâti wal-ardl, wallâhu bimâ ta’malûna khabîr
Jangan sekali-kali orang-orang yang digunakan kikir dengan karunia yang digunakan Allah anugerahkan kepadanya mengira bahwa (kekikiran) itu baik bagi mereka. Sebaliknya, (kekikiran) itu buruk bagi mereka. Pada hari Kiamat, dia akan dikalungi dengan sesuatu yang dengannya merekan berbuat kikir. Milik Allahlah warisan (yang ada di) langit dan juga dalam bumi. Allah Mahateliti terhadap apa yang tersebut kamu kerjakan.
لَقَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ فَقِيْرٌ وَّنَحْنُ اَغْنِيَاۤءُۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوْا وَقَتْلَهُمُ الْاَنْۢبِيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۙ وَّنَقُوْلُ ذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ ١٨١
laqad sami’allâhu qaulalladzîna qâlû innallâha faqîruw wa naḫnu aghniyâ’, sanaktubu mâ qâlû wa qatlahumul-ambiyâ’a bighairi ḫaqqiw wa naqûlu dzûqû ‘adzâbal-ḫarîq
Sungguh, Allah benar-benar telah dilakukan mendengar perkataan orang-orang (Yahudi) yang digunakan mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu miskin kemudian kami kaya.” Kami akan mencatatkan perkataan merek lalu pembunuhan terhadap nabi-nabi yang mana dia lakukan tanpa hak (alasan yang mana benar). Kami akan mengungkapkan (kepada dia pada hari Kiamat), “Rasakanlah azab yang membakar!”
ذٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْكُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِۚ ١٨٢
dzâlika bimâ qaddamat aidîkum wa annallâha laisa bidhallâmil lil-‘abîd
Yang demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu (sendiri) dan juga sesungguhnya Allah (sama sekali) tak menzalimi hamba-hamba-Nya.
اَلَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ عَهِدَ اِلَيْنَآ اَلَّا نُؤْمِنَ لِرَسُوْلٍ حَتّٰى يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُۗ قُلْ قَدْ جَاۤءَكُمْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِيْ بِالْبَيِّنٰتِ وَبِالَّذِيْ قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوْهُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ١٨٣
alladzîna qâlû innallâha ‘ahida ilainâ allâ nu’mina lirasûlin ḫattâ ya’tiyanâ biqurbânin ta’kuluhun-nâr, qul qad jâ’akum rusulum ming qablî bil-bayyinâti wa billadzî qultum fa lima qataltumûhum ing kuntum shâdiqîn
(Mereka adalah) orang-orang (Yahudi) yang tersebut mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah terjadi memerintahkan untuk kami agar kami tiada beriman untuk individu rasul sebelum ia mendatangkan untuk kami kurban yang dimakan api (yang datang dari langit).” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sungguh, beberapa rasul sebelumku telah lama datang kepadamu dengan (membawa) bukti-bukti yang digunakan nyata lalu menyebabkan apa yang mana kamu sebutkan. Akan tetapi, mengapa kamu membunuh dia apabila kamu orang-orang yang digunakan benar?”
فَاِنْ كَذَّبُوْكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَ جَاۤءُوْ بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتٰبِ الْمُنِيْرِ ١٨٤
fa ing kadzdzabûka fa qad kudzdziba rusulum ming qablika jâ’û bil-bayyinâti waz-zuburi wal-kitâbil-munîr
Maka, apabila dia mendustakanmu (Nabi Muhammad), sungguh rasul-rasul sebelummu pun telah dilakukan didustakan. Mereka datang dengan (membawa) mukjizat-mukjizat yang nyata, zubur, lalu Alkitab yang mana memberi penjelasan yang mana sempurna.
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ١٨٥
kullu nafsin dzâ’iqatul maût, wa innamâ tuwaffauna ujûrakum yaumal-qiyâmah, fa man zuḫziḫa ‘anin-nâri wa udkhilal-jannata fa qad fâz, wa mal-ḫayâtud-dun-yâ illâ matâ’ul-ghurûr
Setiap yang mana bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang mana dijauhkan dari neraka juga dimasukkan ke pada surga, sungguh beliau memperoleh kemenangan. Kehidupan bola hanyalah kesenangan yang memperdaya.
۞ لَتُبْلَوُنَّ فِيْٓ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓا اَذًى كَثِيْرًاۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ١٨٦
latublawunna fî amwâlikum wa anfusikum, wa latasma’unna minalladzîna ûtul-kitâba ming qablikum wa minalladzîna asyrakû adzang katsîrâ, wa in tashbirû wa tattaqû fa inna dzâlika min ‘azmil-umûr
Kamu pasti akan diuji pada (urusan) hartamu kemudian dirimu. Kamu pun pasti akan mendengar berbagai hal yang dimaksud sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang mana diberi Alkitab sebelum kamu serta dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar serta bertakwa, sesungguhnya yang mana demikian itu di antaranya urusan yang digunakan (patut) diutamakan.
وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهٗ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُوْنَهٗۖ فَنَبَذُوْهُ وَرَاۤءَ ظُهُوْرِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُوْنَ ١٨٧
wa idz akhadzallâhu mîtsâqalladzîna ûtul-kitâba latubayyinunnahû lin-nâsi wa lâ taktumûnahû fa nabadzûhu warâ’a dhuhûrihim wasytarau bihî tsamanang qalîlâ, fa bi’sa mâ yasytarûn
(Ingatlah) saat Allah menyebabkan perjanjian dengan orang-orang yang dimaksud sudah diberi Alkitab (dengan berfirman), “Hendaklah kamu benar-benar menerangkan (isi Alkitab itu) terhadap manusia juga janganlah kamu menyembunyikannya.” Lalu, merek melemparkannya (janji itu) ke belakang punggung merekan (mengabaikannya) dan juga menukarnya dengan biaya yang tersebut murah. Maka, itulah seburuk-buruk jual beli yang mana mereka itu lakukan.
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَفْرَحُوْنَ بِمَآ اَتَوْا وَّيُحِبُّوْنَ اَنْ يُّحْمَدُوْا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوْا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ١٨٨
lâ taḫsabannalladzîna yafraḫûna bimâ ataw wa yuḫibbûna ay yuḫmadû bimâ lam yaf’alû fa lâ taḫsabannahum bimafâzatim minal-‘adzâb, wa lahum ‘adzâbun alîm
Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa pemukim yang mana gembira dengan apa (perbuatan buruk) yang digunakan telah lama merekan kerjakan kemudian suka dipuji berhadapan dengan perbuatan (yang merek anggap baik) yang digunakan tak dia lakukan, kamu jangan sekali-kali mengira bahwa mereka itu akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang mana sangat pedih.
وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌࣖ ١٨٩
wa lillâhi mulkus-samâwâti wal-ardl, wallâhu ‘alâ kulli syai’ing qadîr
Milik Allahlah kerajaan langit serta bumi. Allah Mahakuasa melawan segala sesuatu.
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ١٩٠
inna fî khalqis-samâwâti wal-ardli wakhtilâfil-laili wan-nahâri la’âyâtil li’ulil-albâb
Sesungguhnya pada penciptaan langit kemudian bumi dan juga pergantian di malam hari kemudian siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi pemukim yang berakal,
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ١٩١
alladzîna yadzkurûnallâha qiyâmaw wa qu’ûdaw wa ‘alâ junûbihim wa yatafakkarûna fî khalqis-samâwâti wal-ardl, rabbanâ mâ khalaqta hâdzâ bâthilâ, sub-ḫânaka fa qinâ ‘adzâban-nâr
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau pada keadaan berbaring, dan juga memikirkan tentang penciptaan langit juga bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.
رَبَّنَآ اِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ اَخْزَيْتَهٗۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ ١٩٢
rabbanâ innaka man tudkhilin-nâra fa qad akhzaitah, wa mâ lidh-dhâlimîna min anshâr
Ya Tuhan kami, sesungguhnya pendatang yang digunakan Engkau masukkan ke pada neraka, maka Engkau benar-benar telah lama menghinakannya kemudian tidak ada ada orang penolong pun bagi warga yang tersebut zalim.
رَبَّنَآ اِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُّنَادِيْ لِلْاِيْمَانِ اَنْ اٰمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَاٰمَنَّاۖ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَبْرَارِۚ ١٩٣
rabbanâ innanâ sami’nâ munâdiyay yunâdî lil-îmâni an âminû birabbikum fa âmannâ rabbanâ faghfir lanâ dzunûbanâ wa kaffir ‘annâ sayyi’âtinâ wa tawaffanâ ma’al-abrâr
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar khalayak yang mana menyeru pada keimanan, yaitu ‘Berimanlah kamu untuk Tuhanmu,’ maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, serta wafatkanlah kami beserta orang-orang yang tersebut setiap saat berbuat kebaikan.
رَبَّنَا وَاٰتِنَا مَا وَعَدْتَّنَا عَلٰى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ ١٩٤
rabbanâ wa âtinâ mâ wa’attanâ ‘alâ rusulika wa lâ tukhzinâ yaumal-qiyâmah, innaka lâ tukhliful-mî’âd
Ya Tuhan kami, anugerahilah kami apa yang digunakan telah terjadi Engkau janjikan terhadap kami melalui rasul-rasul-Mu juga janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau bukan pernah mengingkari janji.”
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ اَنِّيْ لَآ اُضِيْعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنْكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰىۚ بَعْضُكُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۚ فَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَاُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاُوْذُوْا فِيْ سَبِيْلِيْ وَقٰتَلُوْا وَقُتِلُوْا لَاُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَلَاُدْخِلَنَّهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۚ ثَوَابًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الثَّوَابِ ١٩٥
fastajâba lahum rabbuhum annî lâ udlî’u ‘amala ‘âmilim mingkum min dzakarin au untsâ, ba’dlukum mim ba’dl, falladzîna hâjarû wa ukhrijû min diyârihim wa ûdzû fî sabîlî wa qâtalû wa qutilû la’ukaffiranna ‘an-hum sayyi’âtihim wa la’udkhilannahum jannâtin tajrî min taḫtihal-an-hâr, tsawâbam min ‘indillâh, wallâhu ‘indahû ḫusnuts-tsawâb
Maka, Tuhan merekan memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidaklah menyia-nyiakan perbuatan khalayak yang beramal dalam antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang dimaksud lain. Maka, orang-orang yang mana berhijrah, diusir dari kampung halamannya, disakiti pada jalan-Ku, berperang, juga terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan dia kemudian pasti Aku masukkan mereka itu ke di surga-surga yang dimaksud mengalir pada bawahnya sungai-sungai sebagai pahala dari Allah. Di sisi Allahlah ada pahala yang digunakan baik.”
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِۗ ١٩٦
lâ yaghurrannaka taqallubulladzîna kafarû fil-bilâd
Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh bolak-balik perjalanan orang-orang yang mana kufur pada seluruh negeri.
مَتَاعٌ قَلِيْلٌۗ ثُمَّ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ١٩٧
matâ’ung qalîl, tsumma ma’wâhum jahannam, wa bi’sal-mihâd
(Semua itu hanyalah) kesenangan sementara, kemudian tempat kembali dia ialah (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.
لٰكِنِ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا نُزُلًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّلْاَبْرَارِ ١٩٨
lâkinilladzînattaqau rabbahum lahum jannâtun tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ nuzulam min ‘indillâh, wa mâ ‘indallâhi khairul lil-abrâr
Akan tetapi, orang-orang yang tersebut bertakwa untuk Tuhannya, merek akan mendapat surga-surga yang tersebut mengalir di dalam bawahnya sungai-sungai juga mereka kekal pada dalamnya sebagai karunia dari Allah. Apa yang dimaksud pada sisi Allah itu lebih besar baik bagi orang-orang yang digunakan setiap saat berbuat baik.
وَاِنَّ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَمَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ خٰشِعِيْنَ لِلّٰهِۙ لَا يَشْتَرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ١٩٩
wa inna min ahlil-kitâbi lamay yu’minu billâhi wa mâ unzila ilaikum wa mâ unzila ilaihim khâsyi’îna lillâhi lâ yasytarûna bi’âyâtillâhi tsamanang qalîlâ, ulâ’ika lahum ajruhum ‘inda rabbihim, innallâha sarî’ul-ḫisâb
Sesungguhnya di dalam antara Ahlulkitab ada yang mana beriman untuk Allah lalu pada apa yang dimaksud diturunkan untuk kamu dan juga yang tersebut diturunkan untuk mereka. Mereka berendah hati untuk Allah lalu tiada menukarkan ayat-ayat Allah dengan tarif murah. Mereka itu memperoleh pahala ke sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Mahacepat perhitungan-Nya.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَࣖ ٢٠٠
yâ ayyuhalladzîna âmanushbirû wa shâbirû wa râbithû, wattaqullâha la’allakum tufliḫûn
Wahai orang-orang yang tersebut beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga di perbatasan (negerimu), juga bertakwalah terhadap Allah agar kamu beruntung.
Artikel ini disadur dari Surat Ali Imran Full: Arab, Latin dan Terjemahannya

