Tantangan Produsen Mobil Listrik China dalam Asia Tenggara: Realitas vs. Tujuan
JAKARTA – Asia Tenggara, dengan populasi muda juga kelas menengah yang tersebut mengalami perkembangan pesat, menjadi target pangsa menggiurkan bagi produsen mobil listrik dunia, termasuk dari China.
Namun, kenyataan dalam lapangan menunjukkan bahwa mendobrak bursa otomotif di tempat kawasan ini tidaklah mudah. Produsen mobil listrik China menghadapi beberapa jumlah tantangan, mulai tarif yang tersebut masih tinggi, infrastruktur pengisian daya terbatas, hingga persaingan dengan merek lokal yang digunakan kuat (di beberapa negara).
Harga juga Daya Beli Konsumen
Meskipun penduduk Asia Tenggara semakin tertarik pada mobil listrik, nilai tukar yang digunakan masih relatif tinggi menjadi kendala utama. “Mungkin orang kaya lebih tinggi menyadari tentang mobil listrik, tetapi bukanlah orang biasa,” kata Hairayani, pribadi guru sekolah di area DKI Jakarta untuk CNBC. “Ditambah lagi ada faktor tarif lalu kerumitan ekstra untuk menemukan stasiun pengisian daya.”
Infrastruktur Pengisian Daya
Ketersediaan infrastruktur pengisian daya yang memadai juga menjadi faktor penting pada adopsi mobil listrik.
Di banyak negara Asia Tenggara, infrastruktur pengisian daya masih terbatas lalu tak merata. Hal ini menyebabkan perasaan khawatir bagi calon pembeli mobil listrik tentang kemudahan serta kenyamanan pada pengisian daya.
Persaingan dengan Merek Lokal
Di beberapa negara, produsen mobil listrik China juga harus bersaing dengan merek lokal yang digunakan lebih tinggi punya “merek”. Di Vietnam, misalnya, VinFast dengan jaringan stasiun pengisian daya yang dimaksud luas kemudian harga jual yang kompetitif berhasil mendominasi bursa mobil listrik. Dari hampir 91.500 mobil listrik yang dimaksud terjual pada Vietnam tahun lalu, lebih tinggi dari 87.000 unit adalah model VinFast.
Keengganan terhadap Layanan China
Meskipun mobil Jepun populer di tempat Asia Tenggara, masih ada keengganan dari sebagian konsumen untuk membeli item China, khususnya di dalam negara-negara yang mempunyai sejarah ketegangan kebijakan pemerintah dengan China. “Orang-orang sedikit khawatir lantaran ini adalah merek China,” kata Dong Hai, manusia salesman dalam showroom Chery Automobile Co. di area Hanoi.
Strategi Produsen Mobil Listrik China
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, produsen mobil listrik China tidaklah tinggal diam. Mereka melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pelanggan lalu mendobrak lingkungan ekonomi Asia Tenggara, dalam antaranya:
1. Gencar beriklan: GAC Aion serta BYD terlibat beriklan di dalam berbagai media kemudian jaringan untuk meningkatkan kesadaran merek serta produk-produk mereka.
2. Membangun prasarana produksi lokal: BYD lalu Chery Automobile berinvestasi pada pengerjaan pabrik di area Indonesia serta Thailand untuk mengempiskan biaya produksi serta meningkatkan daya saing.
3. Menawarkan nilai kompetitif: BYD meluncurkan beberapa model di dalam Vietnam dengan harga jual mulai dari 659 jt dong (USD25.800) untuk menarik konsumen.
4. Layanan yang digunakan Disesuaikan Pasar Lokal: BYD merilis M6, MPV listrik 7 seater untuk pangsa Indonesia dengan harga jual Rp350 jutaan, yang mana terbukti disambut sangat positif.
Ron Zheng, mitra di tempat ahli konsultasi global Roland Berger GmbH, menyatakan bahwa Asia Tenggara adalah lingkungan ekonomi yang tersebut berjauhan lebih tinggi kompleks dibandingkan China. Produsen mobil China perlu menavigasi berbagai budaya, bahasa, juga sistem regulasi yang dimaksud berbeda.
Meskipun demikian, Zheng optimis dengan masa depan mobil listrik di area Asia Tenggara. “Tidak diragukan lagi mobil listrik pintar pada akhirnya akan menggantikan mobil bermesin pembakaran internal tradisional,” katanya.
Namun, beliau memprediksi bahwa diperlukan waktu sekitar lima tahun dengan dukungan insentif dari pemerintah sebelum konsumen mulai beralih ke mobil listrik.
Produsen mobil listrik China menghadapi tantangan yang signifikan di tempat Asia Tenggara. Namun, dengan strategi yang dimaksud tepat lalu pengembangan yang mana berkelanjutan, merekan mempunyai potensi untuk berhasil di area pangsa yang menggiurkan ini.
Adopsi mobil listrik pada Asia Tenggara diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan peningkatan kesadaran konsumen, perkembangan infrastruktur pengisian daya, dan juga dukungan daripemerintah.

