Trump Tebar Ancaman Soal Dedolarisasi, Begini Reaksi BRICS
JAKARTA – BRICS bereaksi melawan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), mengisyaratkan bahwa masuknya kembali Trump ke Gedung Putih tidak ada akan menghalangi peningkatan aliansi tersebut. Blok BRICS akan terus memacu rencana dedolarisasi kemudian tiada mempunyai rencana untuk mundur dari kerangka kerjanya.
Negara-negara anggota BRICS terus menguatkan kerja sebanding juga inisiatif dunia usaha global mereka terlepas siapa yang tersebut berkuasa di dalam Gedung Putih. Presiden lembaga analitis Brasil CMA Group Jose Juan Sanches, mengungkapkan bahwa BRICS tak akan mengubah perspektifnya walaupun Trump telah lama diambil sumpahnya pada Januari tahun depan.
“Kita dapat mendekati kesulitan ini dari dua perspektif kegiatan ekonomi kemudian politik. Dari sudut pandang ekonomi, yang perkembangannya hanya sekali bergantung pada situasi bursa global bukan akan ada masalah,” ujar Sanches, disitir dari Watcher Guru, Hari Sabtu (9/11/2024), menjawab pertanyaan mengenai masa depan BRICS usai Trump terpilih menjadi Presiden AS.
Trump baru-baru ini bersumpah untuk meningkatkan tarif sebesar 100% jikalau negara-negara BRICS mencoba untuk mengakhiri ketergantungan pada dolar AS.
“Jika ada negara yang digunakan menyatakan untuk saya, Pak, kami sangat menyukai Anda, tetapi kami tidaklah lagi menggunakan dolar Negeri Paman Sam sebagai mata uang cadangan lalu tidak ada menggunakannya lagi, saya akan menyatakan tak apa-apa. Anda akan membayar tarif 100% untuk semua yang digunakan Anda jual dalam AS. Kami menyukai produk-produk Anda, saya harap Anda jual banyak komoditas ke AS, tetapi Anda harus membayar pajak 100%,” katanya.
Trump menjelaskan bahwa negara-negara BRICS akan mengikuti jikalau tarif 100% diberlakukan untuk produk-produk dia yang digunakan masuk ke AS.
“Pak, merupakan suatu kehormatan untuk tetap memperlihatkan menggunakan mata uang cadangan. Anda tidak ada memiliki orang lain yang mana dapat berbicara seperti itu,” katanya.
Tarif 100% akan memaksa negara-negara BRICS untuk meninggalkan inisiatif dedolarisasi akibat sektor impor dan juga ekspor mereka akan terpukul. Memberlakukan tarif 100% terbukti mahal akan merugikan neraca keuangan mereka.

