Kontroversi Film Emilia Perez yang dimaksud Maju Menembus Oscar, Angkat Isu Transgender
JAKARTA – Emilia Perez adalah film Prancis berbahasa Spanyol yang disutradarai Jacques Audiard. Film ini mengisahkan pemimpin kartel Meksiko yang tersebut merekrut manusia pengacara untuk membantunya bertransisi menjadi pribadi wanita. Tak heran, apabila film ini dengan segera mendapat reaksi keras kemudian cuitan meragukan dari aktris utamanya, Karla Sofía Gascon, tetapi Emilia Perez mungkin saja akan merain sejumlah penghargaan pada Oscar pada akhir pekan ini.
Mungkin sedikit mengejutkan apabila film musikal yang tersebut lebih besar digembar-gemborkan meraih penghargaan meredup kemudian Emilia Pérez diam-diam etelah menimbulkan gebrakan besar di tempat Festival Film Cannes 2024, di tempat mana film yang dimaksud mengungguli Penghargaan Juri dan juga Penghargaan Aktris Terbaik pertama untuk sebuah grup.
Film Jacques Audiard menerima 10 nominasi Golden Globes, yang mana terbanyak untuk sebuah film tahun ini, termasuk Film Terbaik — Musikal atau Komedi, serta mengakibatkan pulang empat penghargaan.
Emilia Perez Menembus Oscar
Film yang disebutkan juga mengawasi nominasi Oscar minggu ini dengan 13 nominasi, yang digunakan terbanyak kedua untuk film mana pun pada sejarah, menyamai Gone With the Wind, Forrest Gump, kemudian Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring.
Film ini dinominasikan untuk kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik untuk Audiard, Aktris Terbaik untuk Karla Sofía Gascón, Aktris Pendukung Terbaik untuk Zoe Saldaña, lalu Lagu Orisinal Terbaik untuk dua nomor musikalnya.

Namun, apakah Emilia Perez — film tentang individu pemimpin kartel yang menjalani operasi afirmasi gender serta lolos dari hidup kriminal — benar-benar bagus? Seperti banyak cerita yang menggali realitas suram komunitas yang mana tertindas, kritikus juga lembaga penghargaan berbondong-bondong memuji film “avant garde” yang disebutkan oleh sebab itu mengeksplorasi identitas trans lalu pertempuran narkoba di dalam Meksiko.
Ulasan yang gemilang memuji “keberanian” kemudian “orisinalitas” pembuat film Prancis Audiard pada memusatkan karakter yang dimaksud kurang terwakili dan juga menyampaikan materi subjek yang tersebut “provokatif” melalui musikal berbahasa Spanyol yang digunakan memukau. Sementara, penduduk umum, setidaknya menurut Letterboxd, kurang menyukai film yang disebutkan serta banyak kritikus queer khawatir dengan keberadaannya.
Dalam sebuah cerita untuk The Cut, penulis Harron Walker menyalahkan penyelenggaraan identitas trans oleh Emilia Perez sebagai alat yang dimaksud “pada dasarnya bersifat menebus” bagi protagonis kriminalnya. Sebuah artikel di tempat Autostraddle menyampaikan film itu sebagai “omong kosong cis paling unik yang pernah Anda lihat.”
Bahkan organisasi LGBTQ GLAAD telah dilakukan mengutuk film itu sebagai representasi trans yang mana buruk. Kritikus juga pembuat film di dalam Meksiko juga mirip blak-blakannya. Penulis skenario Meksiko Héctor Guillén mengatakan film itu sebagai “ejekan Eurosentris rasis.” Dia, dengan sutradara trans Meksiko Camila Aurora, juga memproduksi film parodi merebak yang mana terinspirasi oleh Emilia Pérez serta menggunakan stereotip Prancis yang tersebut disebut Johanne Sacreblu.
Latar Belakang Film Emilia Perez
Emilia Perez diadaptasi dari libretto opera Audiard dengan nama yang serupa serta berdasarkan novel Boris Razon 2019 Ecoute, di tempat mana Emilia Perez pada dasarnya adalah musikal rock tentang tiga wanita Meksiko yang hidupnya berubah ketika salah satu dari mereka, Emilia (Gascón), memutuskan untuk bertransisi. Film ini dimulai dengan Rita (Saldaña), individu pengacara pembela Dominika yang tersebut kelelahan akibat sistem hukum Meksiko yang dimaksud korup kemudian misoginis. Setelah membebaskan manusia tokoh media terkemuka dari tuduhan pembunuhan istrinya, ia diculik oleh Emilia (yang ketika itu dikenal sebagai “Manitas”), yang meminta-minta bantuan Rita untuk melarikan diri dari kartel dengan imbalan sebagian besar uang tunai.
Emilia Perez Ancaman Besar di dalam Piala Oscar
Emilia Perez meraih kemenangan beruntunnya pada Golden Globes kemudian kemungkinan akan meraih beberapa penghargaan di dalam acara Oscar. Sudah menjadi kiasan Oscar bahwa, setiap beberapa tahun, film yang tersebut tidaklah dipikirkan matang-matang yang tersebut mendiskusikan “isu-isu penting” menjadi favorit di dalam antara para pemilih Academy, yang tersebut menepuk punggung merekan sendiri lantaran merayakan apa yang tersebut merekan yakini sebagai keberagaman serta seni urusan politik pada sektor yang mana sangat tertutup.
Film-film pada kategori kebijakan pemerintah yang dimaksud diperdebatkan ini cenderung menampilkan orang-orang yang terpinggirkan yang digunakan berhadapan dengan semacam perjuangan versi melodramatis.
Film Danny Boyle pada 2008 Slumdog Millionaire menyebabkan pulang delapan Oscar, termasuk Film Terbaik, sambil menghadapi reaksi keras dari para kritikus pada India tentang bagaimana film itu menggambarkan kemiskinan perkotaan di dalam negara itu, juga keengganan Academy untuk merayakan film-film karya pembuat film India.
Terkadang, film-film itu berisi pesan-pesan kikuk tentang toleransi yang dimaksud mau tidak ada mau lebih tinggi berfokus pada karakter-karakter yang dimaksud miliki hak istimewa. Pemenang Film Terbaik 2019, Green Book, yang mana merupakan kebalikan dari Driving Miss Daisy, baru-baru ini menjadi terkenal pada hal ini. Terkadang, cerita-cerita itu adalah alegori yang tersebut dibuat-buat tentang rasisme seperti pemenang Film Pendek Aksi Terbaik Skin.

